Berbagi Cerita

    • Home
    • P(ar)enting
    • Lifestyle
    • Opini
    • My Illustration
    • About Me



    Halo teman-teman. Sebelum membaca tulisan ini silahkan baca dulu dua hal ini ya!
    1.Tulisan saya kali ini tidak akan membahas gimana caranya supaya teman-teman suka baca buku (karena banyak tulisan-tulisan diluar sana yang sudah membahasnya) tapi semoga dengan tulisan ini teman-teman bisa mencoba melalui berbagai proses untuk menjadi seorang pembaca buku sejati (semoga bukan untuk pamer-pameran di sosmed saja) tapi buat menghibur diri dan nambah ilmu,
    2.Tulisan ini untuk kita yang jarang dikenalkan buku sejak kecil, tapi setelah dewasa malah kepingin menamatkan berbagai bacaan buku sesering mungkin.

    “Dirimu kan enak suka baca buku” kata-kata itu pernah terlontar dari orang lain pada saya. Nyes, hati saya saat itu langsung berdesir macem isi di novel-novel fiksi. Tidak, saya tidak selalu suka baca buku. Tapi, karena di lemari saya berjejer banyak buku, sehingga banyak yang mengira bahwa saya betulan suka baca buku. Ya, buku saya bisa dikatakan banyak, karena saya awalnya suka mengoleksi buku. Saya membeli/tertarik membaca sebuah buku biasanya karena tiga pilihan, satu karena tahu penulisnya, dua: judul buku dan sinopsisnya menarik, tiga: ada ilmu baru/hal menarik yang bisa saya ambil dari buku itu. Lebih seringnya sih begini, buku ini bagus ya, sayang tidak dibeli sekarang apalagi ada duit saat itu, kalau urusan baca bisa nanti-nanti. Ada jugakah yang seperti ini? Tooos, kalau begitu kita sama.

    Dan akhirnya buku-buku tersebut tersimpan di lemari dan sebuah kotak besar. Rapi tanpa pernah dibaca sampai hari ini. Dari semua koleksi buku yang saya punya (bukan buku pelajaran ya), jujur saja:
    - hanya 40% yang sudah saya baca sampai habis,
    - 35%nya dibaca lompat-lompat tiap halaman sesuka hati saya,
    - 15% hanya baca sinopsis plus kurang lebih 10 lembar pertama saja habis itu disimpan kembali,
    - dan 10% lagi masih bertengger rapi tanpa dibaca :D biasanya ini buku yang super tebal atau pembahasan dan kata-kata si pengarangnya agak berat.
    Bahkan ya, dulu ada buku saya yang dari awal pertama beli hingga berbulan-bulan bertengger di lemari, plastik bukunya belum dibuka (masih nampak baru), tapi sekarang sudah saya buka kok dan sudah mulai saya baca :D

    Sebenarnya, dibanding buku saya lebih memilih membaca komik atau buku bergambar dengan sedikit tulisan saja. Adakah yang sama? Bahkan di usia saya yang sudah seperempat abad ini, hobi membaca komik tersebut sangat dianggap aneh oleh beberapa orang. So why? Apa yang salah? Tidak ada satu orang pun yang sebenarnya bisa menjudge buku atau bahan bacaan apa yang kita baca. Pemikiran ini bermula ketika sesuatu terjadi. Ibarat pepatah mengatakan harus kesandung dan jatuh dulu baru sadar dijalan itu ada batu. Jujur saja, dulu saya pernah ada di posisi dimana saya kadang bertanya kepada orang lain “kenapa mereka sangat suka membaca buku cerita anak-anak atau buku-buku kisah cinta menye-menye remaja, novel-novel fan fiction idol, di usia mereka yang sudah tak seharusnya, padahal usia mereka sudah 20an ke atas?”

    Hingga suatu hari, entah kenapa tiba-tiba saya kepingin baca buku yang ringan-ringan saja seperti komik lucu, novel lucu, buku anak, cerita remaja, tuh kan kualat karena sudah meremehkan bahan bacaan orang lain. Akhirnya saya tobat. Sekarang saya mulai membaca lagi buku lain, apapun genrenya. Tapi ya tetap, ada genre-genre tertentu yang menjadi favorit saya. Pernah juga saya mengalami kejadian begini. “Kau masih baca buku kayak gitu?” waktu itu saya lagi baca buku novel anak-anak dari penulis terkenal padahal. Nyes lagi, dalam hati. “Oh aku belum menamatkan buku ini, soalnya dulu kelamaan pas nunggu buku ketiga keluar.” Akhirnya, saya pernah ngerasa minder sendiri dengan bahan bacaan saya, tidak gaul, kekanakan dan nampak ketinggalan zaman.

    Kemudian tak sengaja saya menemukan tulisan tentang judging atau ejekan terhadap bahan bacaan orang lain. Its okay kalau pas usia segini kita masih ngebaca komik atau buku-buku yang tidak terkenal, romance menye-menye dan buku viral. Yang penting kita tidak kehilangan semangat membaca. Itulah kesimpulan yang saya dapatkan. Ditulisan itu juga banyak yang curhat tentang pembullyan yang mereka terima karena bahan bacaan mereka yang tidak gaul. Berani saja dengan apapun yang kita baca, selama itu isinya untuk menghibur diri, menambah ilmu dan belajar hal baru. Misal kamu lebih suka baca “Kalkulus” dan “Ekonomi Makro” ketimbang “Laskar Pelangi”. ITS OKAY DUDE!.
    Apapun yang kamu baca, kamu lah yang lebih tau apa yang kamu butuhkan.

    Jadi, apa sebenarnya inti dari tulisan ini?
    Setelah berbagai curhatan diatas mari kita kembali ke judul tulisan. Membaca buku itu gak asyik, iya betul sekali! APALAGI BANYAK TULISANNYA, DUH BIKIN PUSING (capslock jebol). Tapi seru, iyaaaaa ini tuu juga betul. DIMANA SERUNYAAA?? ISINYA TULISAN SEMUA DAN BUKUNYA TEBAL-TEBAL. Duuh, baca 10 lembar pertama aja rasanya uda jadi rekor terpanjang seumur hidup. Itu yang saya rasakan dulu waktu pertama kali baca novel. Kalau kamu merasakan ini juga, berarti kita sama-sama manusia normal. Apalagi dulu, tidak ada novel atau komik digital seperti sekarang yang bisa dicicil bacanya per-episode setiap minggu.

    Buku favorit pertama saya (saat SD) berjudul “Bulan” lebar seperti majalah, buku itu milik Bapak saya. Isinya tentang bagian-bagian bulan, struktur pesawat antariksa, orang yang pertama kali mendarat di bulan. Dan saya makin suka karena penuh gambar luar angkasa dan sedikit tulisan. Buku non-fiksi favorit saya dulu 3 buku cerita tentang nabi karena ada gambarnya (lagian cuma itu yang ada di rumah). Bacaan novel pertama saya novel tentang pesantren (dipinjemi), saya sangat suka karena ada gambarnya dan tidak didominasi melulu oleh tulisan. SEMUANYA KARENA ADA GAMBARNYA MAKANYA SAYA BACA.

    Nah, akhrinya bacaan novel pertama saya yang full tulisan semua dan saya berhasil menamatkan buku setebal 300 lembar itu tanpa gambar pada saat SMP (bangga banget sama diri sendiri saat itu) adalah Winter in Tokyo karya Ilana Tan. Jadi, karya-karya Ilana Tan ini sangat bersejarah buat saya, karena menemani saya berproses menyukai buku. Buku ini direkomendasikan sahabat saya, Yuni waktu kami SMP dulu. Dia hobi baca buku. Dia mengajak saya menyewa buku dekat sekolah saat SMP. Saat itu jugalah, saya mengenal dan mencintai komik Naruto, Conan, One Piece, Bleach, Eyehield, Shonen Star, Jump, Nakayoshi, Hanalala, Cherry dan lainnya sampai sekarang. Walaupun uda jarang ngebacanya.


    Saat itu, teman saya lebih suka nyewa novel dan saya nyewa komik. Walaupun dia sering meminjamkan novel yang disewanya kepada saya, tapi biasanya jarang saya baca sampai habis. Ya cuma 5 lembar pertama saja habis itu ditutup dan begitu seterusnya. Apakah kamu juga begitu? Ya kita sama. Setelah jatuh cinta dengan karya Ilana Tan, akhirnya saya berlanjut membaca novel penulis lain seperti Jessica, Clara Ng, Felice Cahyadi, Winna Efendi dan banyak lagi (lupa saya hehe). Apakah novel itu semua saya baca sampai habis? Tidak. Ada yang iya, tapi ada juga yang halamannya saya baca lompat-lompat sesuka hati yang penting tau inti ceritanya. (Ya menurut saya membaca buku itu ya suka-suka kita :D)

    Karena seringnya baca komik dan baca novel lompat-lompat akhirnya saya terbiasa membaca sikit-sikit. Makanya, sampai sekarang mata saya tahan membaca artikel panjang apalagi bertema investigasi (karena tidak sepanjang novel). Tapi saya akui memang MEMBACA BUKU ITU GAK ASYIK NAMPAKNYA, karena panjang dan isinya tulisan semua (jujur saja kalau dilihat saya juga tidak suka). Tapi, seru kalau yang dibaca itu menarik. Apalagi si penulis mempunyai ide cerita yang out of the box yang buat kita geleng-geleng sendiri kok bisa ya kepikiran buat cerita seru begini.

    Makanya sebelum saya baca buku saya lihat dulu review buku itu di internet. Jika saya menemukan hal yang menarik atau hal baru dari buku itu baru saya beli bukunya. Atau saya ingin menjadikan buku itu referensi maka langsung saya koleksi di lemari buku saya (jika ada duitnya :D, kalau belum ada duit biasanya masuk list dulu).

    Coba ingat-ingat dulu bahan bacaan atau tulisan apa yang kita sukai. Rajin-rajin aja membaca itu. Misal kamu suka membaca thread di twitter, status panjang orang di sosmed, artikel-artikel ringan tentang hobi, artikel sejarah (favorit saya nih), komik-komik pendek (f4V0r1t say4 jug4 nieech), ya baca sajalah. Lama-lama saat kita sudah tidak menemukan bahan bacaan lagi, saat itulah coba beralih ke buku. Buku yang ringan-ringan saja buat awal. Komik, buku bergambar, novel yang ada gambarnya. Bacanya juga gak mesti dari halaman pertama. Sesuka hatimu saja, mau dari tengah, dari belakang, its okay. Mana yang membuat kamu nyaman aja membacanya. Atau hari ini 5 lembar, seminggu lagi 10 lembar dan seterusnya. Kebiasaan-kebiasaan sering membaca apapun itulah yang akhirnya membuat kita semakin terbiasa. Apalagi tuh ya, FILM yang diangkat dari buku 100% lebih seru baca bukunya ketimbang nonton filmnya. Lebih berasa feelnya, kalau kata anak-anak zaman sekarang.

    Semakin kita sering membaca apapun, misalnya awalnya sering membaca romance. Percayalah, lama kelamaan bahan bacaan kita akan semakin naik level. Sesuai dengan pengalaman atau kejadian yang kita alami, dengan siapa kita bertemu, juga ilmu dan wawasan yang bertambah. Bahan bacaan kita pasti menjadi banyak. Yang tadinya suka romance kemudian bosan dan mencoba genre lain, akhirnya mencari bahan bacaan yang lebih berat dan tiba-tiba menemukan buku “Matematika Terapan” dan langsung jatuh cinta. Ya hal itu bisa saja terjadi, inilah yang dinamakan upgrade bacaan dari yang ringan ke yang berat. Yang penting biasakan aja dulu ngebaca dari bahan bacaan yang kita suka. Soalnya jujur ya, saya juga tuh pasti bakal langsung pusing kalau dikasi buku bacaan berat atau cuma disuruh baca buku pejaran mulu, yang ada stress jadinya. Eits tapi tetap ingat, tidak menjudge bahan bacaan orang lain ya.

    “Gimana ya, menurutku buku yang dibaca si dia itu itu gak bagus! Tapi aku juga gak mau judge bacannya”
    Yaudah saranin aja buku yang bagus dari penulis bagus sesuai dengan genre yang disukai si beliau itu. Kasih tau juga sedikit tentang isi buku yang kamu sarani ini, biar si dia mendapat gambaran. Tapi jangan nyolot loh atau maksa.

    Semua buku/artikel/komik yang ada di dunia ini punya target/pasarnya masing-masing. Apa itu? Misalnya novel remaja buat remaja (tapi semua usia boleh baca), buku anak buat anak (tapi semua orang boleh baca), atau kalau ada remaja yang tiba-tiba baca Kalkulus III dan tertarik ya ALHAMDULILLAH, dia anak ajaib dan its okay. Saran tambahan saya, mintalah rekomendasi jenis buku apa yang menarik dari teman kita yang hobi baca. Atau bisa ikut kumpul-kumpul sama orang-orang yang suka baca biar kita juga kecipratan rajin baca.
    Oh ya sebagai penutup, saat saya membaca novel/buku sering loh terlintas dipikiran saya “Nih, kapan sampai bab akhir, lama amat, penasaran ya ampun.” Akhirnya kebut baca biar siap, kadang-kadang juga langsung lompat ke akhir, terus balik lagi. Pas uda siap bacanya “Loh uda tamat, yah padahal seru.” Tenang saja, sebagai manusia hal itu normal kok.

    Jadi dari tulisan yang panjangnya 1700 kata ini (ya ampun panjang amat) teman-teman bisa menarik kesimpulan sendiri ya. Nah kalau uda bisa baca sampai bawah, berarti kamu uda bisa mulai cari bahan bacaan yang lebih panjang lagi :) kuy kuy

    “Membaca buku yang baik berarti memberi makanan rohani terbaik” -Buya Hamka-
    “Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar, bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar” -Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie-

    Terimakasih :)
    Tulisan ini saya dedikasikan buat orang-orang yang ingin mencoba untuk suka membaca buku. Juga untuk orang-orang baik yang selalu merekomendasikan buku-buku bagus dan sahabat saya yang selalu menghadiahi saya buku setiap tahun. Terimakasih masih membantu saya untuk menyukai “bacaan buku” sampai hari ini.






    Continue Reading
     
    Bentuk ku banyak: Cair, bulat, petak
    Aku penuh warna, begitu menarik perhatian
    Tiga belas jam aku diabaikan
    Tapi amat dicari setelahnya

    Oleh tuanku, aku dibuat dalam berbagai proses
    Dari munculnya garis putih hingga ditutup garis oranye keunguan
    Kelompok ku ternyata punya berbagai kasta
    Dari yang teratas hingga yang terbawah

    Padahal proses pembuatan kami sama
    Sungguh tidak adil rasanya
    Betapa beruntung menjadi kasta teratas
    Berada di meja bundar di ruangan istana

    Terpuruk sekali berada di kasta bawah
    Beralaskan kertas di atas tampah
    Ramai di antara lalu lalang

    Awalnya ku pikir begitu
    Tapi saat aku tiba di istana
    ternyata kami banyak terbuang dan terabaikan
    Tak menimbulkan kebahagiaan
    Hanya simbolisasi keadaan



    Kalau ku pikir-pikir
    Aku yang di atas tampah malah bahagia tak terkira
    Menemani perjalanan, juga dibawa pulang
    Jadi teman berbincang juga bercanda
    Dalam ruangan hangat di atas meja makan

    Ternyata, di antara lalu lalang
    Ada yang bersyukur atas kehadiranku

    Kini aku sadar keberadaanku
    Dalam kasta atas atau bawah
    tak ada bedanya kalau soal bentuk

    Lain kali, Akan aku ingatkan
    Lebih baik tak berkasta atas
    Kalau terbuang sia-sia

    Wahai kasta atas, Ada ide yang lebih baik
    Bagikan saja aku bersama mereka di lalu lalang
    Membuatnya lebih berarti dan lebih bahagia adanya
    Seperti aku yang di atas tampah sungguh sederhana



    Ternyata, ku bisa membuat
    Orang-orang duduk bersama
    Mensyukuri bulan yang datang
    Sekali dalam setahun di kalender hijriyyah


    Baiklah sudah ku putuskan
    Segala kasta harus dihapuskan tak tersisa
    Karenanya timbul Kecemburan
    Dan juga benteng pembatas
    Segala jenisku tidaklah ada yang berbeda sama sekali
    Sekalipun aku dibuat oleh tuan yang berbeda

    Banyak yang kulalui
    Banyak yang kusadari
    Apalah arti aku di sebuah tempat
    Kalau tak ada kehangatan
    Apalah arti aku di meja pertemuan
    Kalau tak ada saling syukur

    Aku
    Cair, bulat, petak
    Aku penuh warna
    Begitu menarik perhatian

    Aku paling banyak di cari
    pada satu bulan di tahun hijriyyah
    Aku tetap ada di bulan lain
    Tapi dengan suasana berbeda

    Kau mungkin bisa menemukanku
    Tapi tidak dengan kebahagiaan disekelilingku

    Aku
    Cair, bulat, petak
    Aku penuh warna
    Begitu menarik perhatian

    Aku takjil
    Itulah suara hatiku
    Begitu indah patut disyukuri

    #ceritaramadanku
    catatan: tulisan ini ditulis pada Ramadan 1438 H/2018 M


    Continue Reading

    Kepada yang baik hati,
    Alhamdulillah, aku bersyukur bahwa kali ini bukan hanya aku saja yang dipertemukan dengan Ramadan. Tapi kamu juga, temanku. Kita bertemu lagi. Bukan untuk membahas soal-soal kalkulus rumit yang biasanya selalu kita perdebatkan. Ah, tak terasa sudah lama sekali. Bertemu di waktu yang berbeda, untuk melihat apakah keadaan masing-masing kita masih baik-baik saja. Ingin sekali kutanyakan langsung, bagaimana hari-harimu ditempat yang baru? Baik-baik sajakah? Apakah ada hal baru yang ingin kamu ceritakan kepadaku? Bagaimana dengan teman-teman barumu? Kepada teman yang berbaik hati, yang sudah meluangkan waktunya untuk bertemu, hingga jauh datang dari negeri seberang. Terimakasih, aku rindu sekali. Sampai bertemu kembali di buka bersama pertengahan ramadan kali ini. Banyak hal yang sudah tidak sabar ingin ku dengar dan ku ceritakan padamu. Aku rindu sekali.




    Kepada yang baik hati,
    Ada orang yang mati-matian berjuang untuk mendapatkan segepok kertas. Begitu cepat hingga menabrak orang-orang yang ada di depannya. Bahkan yang lebih parah sampai menimpa dan menjatuhkan. Tapi kamu berbeda teman. Kamu berproses dan berprogres. Aku pertama kali bertemu atas dasar ingin membantu dan melakukan hal-hal yang ku sukai. Begitu cepat, berproses hingga ada yang datang dan pergi, setiap ramadan silih berganti. Kadang kamu kutemui, kadang kamu hilang tak pulang lagi. Kepada teman yang berbaik hati, terakhir kali yang kita kerjakan bersama adalah festival yang unik. Kembali membantu orang lain mendapatkan inspirasi. Yang ku ingat kala itu ‘Kapal Belajar’ yang selalu menjadi wacana untuk kita kunjungi. Setiap tahun, ramadan berganti. Kamu juga datang dan pergi. Ingin ku katakan, datanglah kali ini. Aku rindu sekali. Ku tunggu dipertengahan ramadan. Kita buka bersama, berbincang tentang ‘kapal belajar’ juga perayaan hari anak yang akan datang. Atau yang tidak terlalu rumit saja, berbincang tentang hal-hal yang kamu sukai. Aku was was kamu hilang lagi dan sulit kutemui setelahnya. Datanglah kali ini, aku rindu sekali.


    Kepada yang baik hati,
    Kupikir dulu menulis itu adalah hal yang membosankan. Aku lebih memilih menggambar. Saat bertemu kamu pertama kali, begitu banyak yang ku pertimbangkan. Sebegitu sukanya aku dengan gambar, perlahan kamu mulai masuk dalam daftar antrian. Memutuskan untuk membawamu dalam proses perjalanan kampusku adalah keputusan yang paling memengaruhiku hingga saat ini. Bertahun dalam proses yang berbeda, melihat langit terus berganti warna. Begitu sadar, ada yang duduk bertahan, ada yang memilih untuk pulang tak kembali. Pernah aku menangis sendiri, ketika banyak yang pergi dan aku tak dapat membawanya kembali. Saat itu mengeluh bukanlah solusi. Bersyukur masih banyak yang berbaik hati bertahan hingga akhir. Kepada teman yang baik hati, ingin sekali aku bertemu denganmu ramadan kali ini. Dalam acara buka bersama yang diadakan setiap tahunnya. Aku ragu kamu akan datang, mengingat pernah ada banyak drama dan keputusan yang tak sejalan. Mungkin kita bisa membuat yang berbeda lain kali, kuharap kamu datang. Harusnya kamu tahu, setiap kali aku melihatmu dalam ruang yang berbeda, ingin ku katakan aku rindu sekali dan ingin bertemu. Kepada teman yang baik hati, yang sudah duduk dan berproses bersama hingga dini hari terakhir. Banyak hal yang aku rindukan, termasuk bertemu kamu setiap hari dahulu. Walaupun kali ini hanya bertemu seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, bahkan lewat kaca ukuran 5 inchi. Aku harap kamu baik-baik saja di sana. Aku bersyukur pernah berada dalam satu ruang hingga akhir bersamamu. Ramadan kali ini aku tunggu, duduk berbincang dalam acara buka puasa bersama. Memang tak bisa dipaksakan. Tapi, aku harap kamu datang, aku harap kamu pulang. Aku rindu sekali.

    Kepada yang baik hati,
    Aku sangat menyayangimu, sedari dulu hingga sekarang. Walau awalnya aku takut dengan sikapmu, tapi aku tau itu untuk kebaikanku. Dulu, central hidupku adalah kamu. Dulu dan sampai sekarang bahwa hanya dengan melihatmu, aku ingat aku punya mimpi, aku ingat aku gak sendiri. Banyak hal yang sudah kamu lalui, mungkin separuh dari berbagai proses itu, aku ada disana. Selebihnya, kamu sudah berproses dengan yang lain. Aku ingat dulu awal kamu pindah sewaktu SMA, kita masih sering bertemu. Aku masih sering mampir ke tempat barumu. Hingga memasuki awal perkuliahan, kita masih sering bertemu minimal 3 bulan sekali atau yang terlama satu semester sekali. Sudah berbeda kampus pun, kita masih sering mengabari dahulu. Kepada teman yang berbaik hati, satu tahun belakangan, ada yang berbeda. Aku tidak tau tepatnya, siapa diantara kita yang berubah. Ramadan pun kita jarang bertemu. Mungkin ini bagian dari proses pendewasaan masing-masing kita. Tapi, aku senang sekali saat mendapat hadiah tempat pensil warna darimu, yang benar-benar menggambarkan diriku, kamu masih ingat sampai sekarang. Kamu tak berubah, mungkin aku yang sudah berubah. Aku tak membawa apa-apa saat kita terakhir kali bertemu. Aku bingung. Kinipun, kita sudah tak lagi saling mengabari. Kini aku mungkin sudah tak menjadi bagian lagi dari segala prosesmu. Atau justru aku yang tak pernah mengabari? Entahlah. Aku harap kita tetap baik-baik saja. Kamu tetap baik-baik dan sehat-sehat disana. Ingin sekali aku bertemu, ramadan kali ini. Buka puasa bersama, mengobrol tentang masa kecil yang pernah kita lalui dulu. Aku rindu, rindu sekali. Ayo bertemu kembali di kota yang membesarkan kita bersama. Minimal di taman bunga, atau di lorong jalan tempat bermain kita dulu. Kamu tahu kan, aku rindu sekali.

    Kepada yang baik hati,
    Setiap orang pasti akan berproses. Yang paling sulit adalah memulai awal untuk proses itu sendiri. Menulis itu gampang, memikirkan idenya yang buat gamblang. Kepada teman yang baik hati, terimakasih sudah meluangkan ide dan pemikirannya untuk ramadan kali ini hingga akhirnya melahirkan pergerakan kebaikan #29haringeblog. Mungkin, kita semua bisa bertemu di acara buka bersama tahun ini. Semoga saja ya.
    #29haringeblog #ceritaramadanku

    Catatan: tulisan ini ditulis pada Ramadan 1439 H/2018 M

    Continue Reading

     Saat aku masih kecil, hidup di kota dengan masyarakat yang minoritas islam membuatku bukan semerta merta tak dapat menjalankan ibadah. Tarutung, kota kelahiranku atau dalam bahasa batak disebut bona pasogit yang berarti kampung halaman. Salah satu yang membuatku paling bersyukur pernah tinggal di kota ini adalah penduduknya yang ramah dan udaranya yang sejuk setiap hari. Bagiku dulu yang masih kecil, kota ini terasa sangat besar sampai sebelum aku bertemu Pematangsiantar maupun Medan.
    Ramadan di Tarutung
    Memori yang kuingat saat ramadan di kota ini adalah salah satu mesjid besar yang bernama mesjid Syuhada. Kami tumbuh bersama. Ah, bukan berarti mesjid itu hidup, punya kaki, tangan lalu dapat berlari-lari sesukanya. Tumbuh bersama disini adalah aku yang mulai beranjak gede dan mesjid yang mulai renovasi sana-sini. Terakhir kali aku datang ke mesjid ini sekitar tahun lalu, sudah ada kamar mandi yang besar dan lebar daripada yang dulu. Senang sekali, dia juga berproses bahkan hingga sekarang, saat aku tak ada di kota itu lagi.

    Hal yang paling kusuka saat ramadan di kota ini adalah ramainya malam saat ramadan. Jarak antara rumahku dan mesjid Syuhada kira-kira sekitar 500 meter lebih. Tak terasa bila jalan ramai-ramai. Apalagi sebelum aku punya telekungku sendiri, aku pakai telekung punya mamak kemudian pakai celana di dalamnya. Ukuran 1 mukenanya bahkan sudah sampai ke batas mata kaki ku, panjang bukan? Hampir rata-rata dulu penduduk di kota ini menghabiskan sholat taraweh di mesjid Syuhada. Dan yang paling membekas adalah catatan buku ibadah dari sekolah saat aku kelas 1 SMP. Ada tabel khusus yang harus diisi setiap harinya jika kita melaksanakan sholat taraweh. Sebagai buktinya kalau kita sholat, ada tempat khusus yang ditanda tangai oleh imam mesjid dan orangtua. Setelah itu baru dikumpul ke guru setiap pelajaran agama setiap minggunya. Nah, puasa-puasa gak bisa bohong loh ya :D

    Ramadan di Pematangsiantar
    Jarak antara rumahku dan mesjid saat di siantar (penyingkatan pematangsiantar) tidak terlalu jauh. Masih dalam lingkup satu kampung. Dekat saat aku tinggal di jalan kabu-kabu. Namun agak jauh saat kami sekeluarga sudah pindah dan tinggal di simpang kerang. Saat berada di kota ini aku termasuk jarang keluar malam, kecuali moment-moment tertentu. Misalnya saat ada kegiatan, dari rumah Uwak atau yang paling sering saat ramadan. Yang membuatku selalu rindu untuk pulang saat ramadan adalah pergi taraweh bersama Mamak. Soalnya kita berdua jarang keluar bersama kecuali buat belanja ke pajak.
    Mamak : “Infaq uda wen?”
    Aku   : “ Uda mak”
    Percakapan yang terjadi saat mau taraweh. Oiya, di mesjid ini suara bilalnya bagus kali. Sampai-sampai pengen pualng dan taraweh di siantar aja kalau ingat suara bilal di mesjid kami. Benar-benar khas dan bermakna.

    Ramadan di Cempedak Lobang
    Nggak pernah nyangka kalau bakal KKN disini. Sebenarnya saat ramadan di kampung ini ada hal yang membuat deg-deg an gak karuan. Apalagi saat sholat di mesjid dusun III. Deg-deg an bukan perihal anak muda kampung yang ganteng, tapi soal teman satu KKN. Si fulan saat sholat taraweh bareng kami di Mesjid dusun III selalu ‘kesurupan’, tapi tidak saat sholat di mesjid dusun II. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, kami memtuskan untuk berpencar perihal sholat taraweh. Sebagian di dusun III dan sebagian lagi di dusun II. Benar-benar membekas dan membuat rindu sampai sekarang. Tapi dibalik itu semua, ada yang lebih horor lagi.

     
    (foto KKN UIN SU tahun 2015) 

    Ramadan di Medan
    Sudah beberapa tahun melalui Ramadan di kota ini. Banyak yang datang silih berganti, begitupun dengan teman-teman seperjuangan yang dulu sering taraweh bersama-sama. Kini, sudah kembali ke kampung halaman. Kemungkinan sama seperti tahun lalu, tiga perempat ramadan kali ini akan aku habiskan di Medan, perihal urusan pekerjaan yang tak kunjung selesai juga. Aku teringat saat ngontrak di kosan lama. Jadi, gerbang biasanya sudah ditutup pukul 10 malam. Kebetulan saat kami taraweh sekalian tadarus pulang hingga pukul setengah 11 malam. Gerbang belakang yang lebih dekat dengan mesjid ternyata sudah dikunci. Alhasil, kami mutar ke gerbang depan dan bersyukur belum dikunci. “Untung belum dikunci, kalau gak uda ku panjat gerbang ini” gumam dalam hati.

    Jangan takut di cap nakal kalau sering keluar malam terus baliknya malam. Dengan catatan pergi ketempat yang baik ya, ke mesjid apalagi di bulan ramadan. Sebenarnya dapat taraweh di mesjid yang bagus walaupun ada di kota yang berbeda adalah sesuatu yang harus paling banyak kita syukuri.
    Masih banyak yang pengen taraweh tapi gak bisa, karena mesjidnya jauh atau mesjidnya bakal roboh kalau banyak jamaah yang datang.



    So, selagi masi hidup dilingkungan dengan mesjid bagus dan jamaah yang banyak manfaatin waktu sebaik mungkin ya :)
    Kira-kira tahun depan kita akan taraweh di mana lagi ya :) Cant wait for that! Semoga masih bisa bertemu dengan ramadan tahun depan :):)

    Catatan: Bagi teman-teman yang mau berdonasi buat pembangun mesjid di daerah pelosok bisa donasi langsung melalui kitabisa.com

    Akan sangat menyenangkan jika mengetahui bahwa kita sama-sama saling bantu buat taraweh mereka disana :) (sekarang uda bisa donasi pakai Go-Pay loh, lebih mudah kan ya :):) )



    Continue Reading
        (Foto by Freepik.com)

    Sebenarnya apa yang paling ku inginkan saat ramadan tiba? Sulit untuk menimbang-menimbang keinginan, begitu banyak, tak terhitung dan belum tentu bisa terwujud. Bagaimana dengan orang-orang ? Apakah juga menginginkan hal yang sama dengan apa yang paling kuinginkan? Aku teringat saat bergegas buru-buru melewati aspal hitam bersama kernek dan orang-orang, hingga berdesak-desakan didalamnya kemudian. Berburu kertas putih dan menunggu hingga malam, sebisa mungkin hanya untuk satu tujuan. Pulang. Sahur di rumah bersama Mamak, Bapak dan Adik. Keinginanku di ramadan setiap tahunnya. Tapi, kali ini berbeda, bukan tidak mensyukuri dimana aku berada, tapi perbedaan yang kurasakan benar-benar amat dirindukan.

    Pertama
    Kali ini berbeda, dulu sebisa mungkin saat aku menjalani masa pertama kuliah, kemudian disambut ramadan di akhir semester dua, dan awal semester tiga sekitar tahun 2013-an, aku selalu pulang pada ramadan pertama. Tahun kedua masih merasakan hal yang sama, sahur pertama di rumah. Hingga tahun lalu yang paling sedikit hitungan harinya. Tiba di rumah malam hari, sahur pagi hari bersama mamak, bapak, dan adikku yang kedua. Kemudian pulang ke tanah rantau siang hari. Awal pertama puasa yang ekstrim versiku, hingga suara adzan terdengar di hiruk pikuk jalanan, masuk menerobos jendela kaca bus yang membawaku. Bersykur aku masi ditemani kamu, botol mineral yang selalu ada di tas menemani sepanjang perjalanan. Tahun ini, aku tidak ditemani oleh riuhnya orang-orang, tidak perlu berdesak-desakan, tidak perlu berlari-lari agar dapat tempat paling depan, tidak perlu menunggu hingga malam, ramadan pertama kali ini aku tidak pulang.

    Kedua
    Kali ini berbeda, jika setiap tahun ramadanku selalu dibuka dengan sahur bersama di rumah. Mulai terasa berbeda sejak tahun lalu saat sahur pertama, adikku yang pertama tidak pulang. Tidak lengkap semuanya, rasanya ada yang kurang saat sahur tidak banyak yang bisa diceritakan atau ditertawakan bersama tentang hari-hari di kota orang. Sepanjang obrolan dan susana sahur, kita berdiskusi tentang pekerjaan, sekolah adikku dan kapan aku pulang lagi sebelum lebaran tiba. Memang usiaku sudah dapat dimaklumi sebagai usia anak yang bekerja dan jarang pulang karena pekerjaan. Tapi, semoga di usia ini pula aku tidak dicap sebagai anak durhaka yang lupa untuk mengabari dan menanyakan kabar orangtua #bukananakdurhaka


    Ketiga
    Kali ini berbeda, ramadan kali ini ditemani adikku yang sedang menempuh kuliah akhir semester empat. Kami hanya berdua dikontrakan. Sepi, iya. Ditambah lagi dia masih kuliah setiap hari kecuali minggu hingga akhir Mei. Dan aku yang sedang libur seminggu, di rumah sendiri menghabiskan waktu entah ngapain.
    Mamak : “Sekolah libur? Pulang Ramadan ini, wen?” (suara mamak dari telepon)
    Aku   : “Sekolah libur mak, aku libur, tapi aidil masih kuliah hingga akhir Mei ini.”
    Mamak : “Yauda, kalau gitu gak usah pulang aja dulu, nanti aidil gak ada kawan sahur di Medan”
    Aku   : “Iya mak” (dalam hati, kalau aku pulang, makan apa nanti dia pas sahur sama buka -,- .
    NB: Kede nasi disini jauh kali, lagian mahal kalau beli nasi bungkus terus2an  #hiduphematalaanakkos)

    Keempat
    Kali ini berbeda, biasanya aku hanya bisa masak rebusan, sambal dan tumisan. Aku mencoba hal yang baru, bagiku (gak tau kalau biasa aja menurut orang yang bisa masak). Rasa kepengan makan bakso berubah haluan jadi “Udah ah, buat Cilok aja di rumah”. Bermodal puluhan ribu, aku ke pajak, membeli bahan-bahan. Tada~~ rasanya enak tapi sepertinya next Cilok bahan merica dan udangnya harus dikurangi, soalnya kebanyakan untuk ukuran tepung yang aku sediakan. Dan jadilah sahur pertama tahun ini ditemani oleh adikku dan Cilok pertama buatanku. (Note: mungkin nanti aku akan share resep Ciloknya disini, semoga bermanfaat buat anak kos lainnya:)#resepinikhususbuatanakkos)



    Kelima
    Kali ini berbeda, sahur dan ramadanku tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Proses belajarku kali ini, aku ditemani orang-orang yang sama-sama ingin berproses dalam menulis. Senang, iya. Berbeda dengan ramadanku tahun-tahun sebelumnya yang diisi dengan Meme setiap hari, skripsi, juga KKN. Sahur kali ini diisi komentar usil, asik dan membangun. Juga diisi dengan ide-ide baik yang semoga bermanfaat bagi yang membacanya. #29haringeblog #ceritaramadanku

    Aku yakin bahwa ramadan setiap tahunnya selalu ditemani dengan hal-hal menakjubkan. Dimanapun kita berada, bersyukur adalah cara terbaik daripada mengeluh sana sini tentang keadaan. Buktinya masih banyak orang baik disekitar kita. Semoga yang ikutan dan penyelenggara kegiatan baik ini mendapat berkah dari Allah. Terimakasih sudah menemani sahurku dan proses menulisku sebulan kedepan. Glad to see and know you guys! #berkahramadan #29haringeblog #ceritaramadanku

    Catatan: buat yang kangen sahur bareng orangtua, mungkin bisa mengabari orangtua melalui telepon saat kita sudah selesai sahur, jadi serasa kayak sahur bareng kan ya :))



    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me



    Halo! Saya Weny Ms.
    Seorang Blogger dan Freelancer Illustrator.

    My Social Media

    • twitter
    • instagram

    recent posts

    Blog Archive

    • ▼  2020 (3)
      • ▼  July 2020 (1)
        • Membaca Buku: Beneran GAK ASYIK tapi SERU!
      • ►  May 2020 (1)
      • ►  April 2020 (1)
    • ►  2018 (2)
      • ►  May 2018 (2)
    • ►  2017 (2)
      • ►  May 2017 (2)
    • ►  2016 (1)
      • ►  April 2016 (1)
    • ►  2013 (5)
      • ►  August 2013 (1)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  April 2013 (2)
      • ►  March 2013 (1)
    Powered by Blogger.

    Popular Posts

    Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top