Berbagi Cerita

    • Home
    • P(ar)enting
    • Lifestyle
    • Opini
    • My Illustration
    • About Me

    Kepada yang baik hati,
    Alhamdulillah, aku bersyukur bahwa kali ini bukan hanya aku saja yang dipertemukan dengan Ramadan. Tapi kamu juga, temanku. Kita bertemu lagi. Bukan untuk membahas soal-soal kalkulus rumit yang biasanya selalu kita perdebatkan. Ah, tak terasa sudah lama sekali. Bertemu di waktu yang berbeda, untuk melihat apakah keadaan masing-masing kita masih baik-baik saja. Ingin sekali kutanyakan langsung, bagaimana hari-harimu ditempat yang baru? Baik-baik sajakah? Apakah ada hal baru yang ingin kamu ceritakan kepadaku? Bagaimana dengan teman-teman barumu? Kepada teman yang berbaik hati, yang sudah meluangkan waktunya untuk bertemu, hingga jauh datang dari negeri seberang. Terimakasih, aku rindu sekali. Sampai bertemu kembali di buka bersama pertengahan ramadan kali ini. Banyak hal yang sudah tidak sabar ingin ku dengar dan ku ceritakan padamu. Aku rindu sekali.




    Kepada yang baik hati,
    Ada orang yang mati-matian berjuang untuk mendapatkan segepok kertas. Begitu cepat hingga menabrak orang-orang yang ada di depannya. Bahkan yang lebih parah sampai menimpa dan menjatuhkan. Tapi kamu berbeda teman. Kamu berproses dan berprogres. Aku pertama kali bertemu atas dasar ingin membantu dan melakukan hal-hal yang ku sukai. Begitu cepat, berproses hingga ada yang datang dan pergi, setiap ramadan silih berganti. Kadang kamu kutemui, kadang kamu hilang tak pulang lagi. Kepada teman yang berbaik hati, terakhir kali yang kita kerjakan bersama adalah festival yang unik. Kembali membantu orang lain mendapatkan inspirasi. Yang ku ingat kala itu ‘Kapal Belajar’ yang selalu menjadi wacana untuk kita kunjungi. Setiap tahun, ramadan berganti. Kamu juga datang dan pergi. Ingin ku katakan, datanglah kali ini. Aku rindu sekali. Ku tunggu dipertengahan ramadan. Kita buka bersama, berbincang tentang ‘kapal belajar’ juga perayaan hari anak yang akan datang. Atau yang tidak terlalu rumit saja, berbincang tentang hal-hal yang kamu sukai. Aku was was kamu hilang lagi dan sulit kutemui setelahnya. Datanglah kali ini, aku rindu sekali.


    Kepada yang baik hati,
    Kupikir dulu menulis itu adalah hal yang membosankan. Aku lebih memilih menggambar. Saat bertemu kamu pertama kali, begitu banyak yang ku pertimbangkan. Sebegitu sukanya aku dengan gambar, perlahan kamu mulai masuk dalam daftar antrian. Memutuskan untuk membawamu dalam proses perjalanan kampusku adalah keputusan yang paling memengaruhiku hingga saat ini. Bertahun dalam proses yang berbeda, melihat langit terus berganti warna. Begitu sadar, ada yang duduk bertahan, ada yang memilih untuk pulang tak kembali. Pernah aku menangis sendiri, ketika banyak yang pergi dan aku tak dapat membawanya kembali. Saat itu mengeluh bukanlah solusi. Bersyukur masih banyak yang berbaik hati bertahan hingga akhir. Kepada teman yang baik hati, ingin sekali aku bertemu denganmu ramadan kali ini. Dalam acara buka bersama yang diadakan setiap tahunnya. Aku ragu kamu akan datang, mengingat pernah ada banyak drama dan keputusan yang tak sejalan. Mungkin kita bisa membuat yang berbeda lain kali, kuharap kamu datang. Harusnya kamu tahu, setiap kali aku melihatmu dalam ruang yang berbeda, ingin ku katakan aku rindu sekali dan ingin bertemu. Kepada teman yang baik hati, yang sudah duduk dan berproses bersama hingga dini hari terakhir. Banyak hal yang aku rindukan, termasuk bertemu kamu setiap hari dahulu. Walaupun kali ini hanya bertemu seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, bahkan lewat kaca ukuran 5 inchi. Aku harap kamu baik-baik saja di sana. Aku bersyukur pernah berada dalam satu ruang hingga akhir bersamamu. Ramadan kali ini aku tunggu, duduk berbincang dalam acara buka puasa bersama. Memang tak bisa dipaksakan. Tapi, aku harap kamu datang, aku harap kamu pulang. Aku rindu sekali.

    Kepada yang baik hati,
    Aku sangat menyayangimu, sedari dulu hingga sekarang. Walau awalnya aku takut dengan sikapmu, tapi aku tau itu untuk kebaikanku. Dulu, central hidupku adalah kamu. Dulu dan sampai sekarang bahwa hanya dengan melihatmu, aku ingat aku punya mimpi, aku ingat aku gak sendiri. Banyak hal yang sudah kamu lalui, mungkin separuh dari berbagai proses itu, aku ada disana. Selebihnya, kamu sudah berproses dengan yang lain. Aku ingat dulu awal kamu pindah sewaktu SMA, kita masih sering bertemu. Aku masih sering mampir ke tempat barumu. Hingga memasuki awal perkuliahan, kita masih sering bertemu minimal 3 bulan sekali atau yang terlama satu semester sekali. Sudah berbeda kampus pun, kita masih sering mengabari dahulu. Kepada teman yang berbaik hati, satu tahun belakangan, ada yang berbeda. Aku tidak tau tepatnya, siapa diantara kita yang berubah. Ramadan pun kita jarang bertemu. Mungkin ini bagian dari proses pendewasaan masing-masing kita. Tapi, aku senang sekali saat mendapat hadiah tempat pensil warna darimu, yang benar-benar menggambarkan diriku, kamu masih ingat sampai sekarang. Kamu tak berubah, mungkin aku yang sudah berubah. Aku tak membawa apa-apa saat kita terakhir kali bertemu. Aku bingung. Kinipun, kita sudah tak lagi saling mengabari. Kini aku mungkin sudah tak menjadi bagian lagi dari segala prosesmu. Atau justru aku yang tak pernah mengabari? Entahlah. Aku harap kita tetap baik-baik saja. Kamu tetap baik-baik dan sehat-sehat disana. Ingin sekali aku bertemu, ramadan kali ini. Buka puasa bersama, mengobrol tentang masa kecil yang pernah kita lalui dulu. Aku rindu, rindu sekali. Ayo bertemu kembali di kota yang membesarkan kita bersama. Minimal di taman bunga, atau di lorong jalan tempat bermain kita dulu. Kamu tahu kan, aku rindu sekali.

    Kepada yang baik hati,
    Setiap orang pasti akan berproses. Yang paling sulit adalah memulai awal untuk proses itu sendiri. Menulis itu gampang, memikirkan idenya yang buat gamblang. Kepada teman yang baik hati, terimakasih sudah meluangkan ide dan pemikirannya untuk ramadan kali ini hingga akhirnya melahirkan pergerakan kebaikan #29haringeblog. Mungkin, kita semua bisa bertemu di acara buka bersama tahun ini. Semoga saja ya.
    #29haringeblog #ceritaramadanku

    Catatan: tulisan ini ditulis pada Ramadan 1439 H/2018 M

    Continue Reading

     Saat aku masih kecil, hidup di kota dengan masyarakat yang minoritas islam membuatku bukan semerta merta tak dapat menjalankan ibadah. Tarutung, kota kelahiranku atau dalam bahasa batak disebut bona pasogit yang berarti kampung halaman. Salah satu yang membuatku paling bersyukur pernah tinggal di kota ini adalah penduduknya yang ramah dan udaranya yang sejuk setiap hari. Bagiku dulu yang masih kecil, kota ini terasa sangat besar sampai sebelum aku bertemu Pematangsiantar maupun Medan.
    Ramadan di Tarutung
    Memori yang kuingat saat ramadan di kota ini adalah salah satu mesjid besar yang bernama mesjid Syuhada. Kami tumbuh bersama. Ah, bukan berarti mesjid itu hidup, punya kaki, tangan lalu dapat berlari-lari sesukanya. Tumbuh bersama disini adalah aku yang mulai beranjak gede dan mesjid yang mulai renovasi sana-sini. Terakhir kali aku datang ke mesjid ini sekitar tahun lalu, sudah ada kamar mandi yang besar dan lebar daripada yang dulu. Senang sekali, dia juga berproses bahkan hingga sekarang, saat aku tak ada di kota itu lagi.

    Hal yang paling kusuka saat ramadan di kota ini adalah ramainya malam saat ramadan. Jarak antara rumahku dan mesjid Syuhada kira-kira sekitar 500 meter lebih. Tak terasa bila jalan ramai-ramai. Apalagi sebelum aku punya telekungku sendiri, aku pakai telekung punya mamak kemudian pakai celana di dalamnya. Ukuran 1 mukenanya bahkan sudah sampai ke batas mata kaki ku, panjang bukan? Hampir rata-rata dulu penduduk di kota ini menghabiskan sholat taraweh di mesjid Syuhada. Dan yang paling membekas adalah catatan buku ibadah dari sekolah saat aku kelas 1 SMP. Ada tabel khusus yang harus diisi setiap harinya jika kita melaksanakan sholat taraweh. Sebagai buktinya kalau kita sholat, ada tempat khusus yang ditanda tangai oleh imam mesjid dan orangtua. Setelah itu baru dikumpul ke guru setiap pelajaran agama setiap minggunya. Nah, puasa-puasa gak bisa bohong loh ya :D

    Ramadan di Pematangsiantar
    Jarak antara rumahku dan mesjid saat di siantar (penyingkatan pematangsiantar) tidak terlalu jauh. Masih dalam lingkup satu kampung. Dekat saat aku tinggal di jalan kabu-kabu. Namun agak jauh saat kami sekeluarga sudah pindah dan tinggal di simpang kerang. Saat berada di kota ini aku termasuk jarang keluar malam, kecuali moment-moment tertentu. Misalnya saat ada kegiatan, dari rumah Uwak atau yang paling sering saat ramadan. Yang membuatku selalu rindu untuk pulang saat ramadan adalah pergi taraweh bersama Mamak. Soalnya kita berdua jarang keluar bersama kecuali buat belanja ke pajak.
    Mamak : “Infaq uda wen?”
    Aku   : “ Uda mak”
    Percakapan yang terjadi saat mau taraweh. Oiya, di mesjid ini suara bilalnya bagus kali. Sampai-sampai pengen pualng dan taraweh di siantar aja kalau ingat suara bilal di mesjid kami. Benar-benar khas dan bermakna.

    Ramadan di Cempedak Lobang
    Nggak pernah nyangka kalau bakal KKN disini. Sebenarnya saat ramadan di kampung ini ada hal yang membuat deg-deg an gak karuan. Apalagi saat sholat di mesjid dusun III. Deg-deg an bukan perihal anak muda kampung yang ganteng, tapi soal teman satu KKN. Si fulan saat sholat taraweh bareng kami di Mesjid dusun III selalu ‘kesurupan’, tapi tidak saat sholat di mesjid dusun II. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, kami memtuskan untuk berpencar perihal sholat taraweh. Sebagian di dusun III dan sebagian lagi di dusun II. Benar-benar membekas dan membuat rindu sampai sekarang. Tapi dibalik itu semua, ada yang lebih horor lagi.

     
    (foto KKN UIN SU tahun 2015) 

    Ramadan di Medan
    Sudah beberapa tahun melalui Ramadan di kota ini. Banyak yang datang silih berganti, begitupun dengan teman-teman seperjuangan yang dulu sering taraweh bersama-sama. Kini, sudah kembali ke kampung halaman. Kemungkinan sama seperti tahun lalu, tiga perempat ramadan kali ini akan aku habiskan di Medan, perihal urusan pekerjaan yang tak kunjung selesai juga. Aku teringat saat ngontrak di kosan lama. Jadi, gerbang biasanya sudah ditutup pukul 10 malam. Kebetulan saat kami taraweh sekalian tadarus pulang hingga pukul setengah 11 malam. Gerbang belakang yang lebih dekat dengan mesjid ternyata sudah dikunci. Alhasil, kami mutar ke gerbang depan dan bersyukur belum dikunci. “Untung belum dikunci, kalau gak uda ku panjat gerbang ini” gumam dalam hati.

    Jangan takut di cap nakal kalau sering keluar malam terus baliknya malam. Dengan catatan pergi ketempat yang baik ya, ke mesjid apalagi di bulan ramadan. Sebenarnya dapat taraweh di mesjid yang bagus walaupun ada di kota yang berbeda adalah sesuatu yang harus paling banyak kita syukuri.
    Masih banyak yang pengen taraweh tapi gak bisa, karena mesjidnya jauh atau mesjidnya bakal roboh kalau banyak jamaah yang datang.



    So, selagi masi hidup dilingkungan dengan mesjid bagus dan jamaah yang banyak manfaatin waktu sebaik mungkin ya :)
    Kira-kira tahun depan kita akan taraweh di mana lagi ya :) Cant wait for that! Semoga masih bisa bertemu dengan ramadan tahun depan :):)

    Catatan: Bagi teman-teman yang mau berdonasi buat pembangun mesjid di daerah pelosok bisa donasi langsung melalui kitabisa.com

    Akan sangat menyenangkan jika mengetahui bahwa kita sama-sama saling bantu buat taraweh mereka disana :) (sekarang uda bisa donasi pakai Go-Pay loh, lebih mudah kan ya :):) )



    Continue Reading
        (Foto by Freepik.com)

    Sebenarnya apa yang paling ku inginkan saat ramadan tiba? Sulit untuk menimbang-menimbang keinginan, begitu banyak, tak terhitung dan belum tentu bisa terwujud. Bagaimana dengan orang-orang ? Apakah juga menginginkan hal yang sama dengan apa yang paling kuinginkan? Aku teringat saat bergegas buru-buru melewati aspal hitam bersama kernek dan orang-orang, hingga berdesak-desakan didalamnya kemudian. Berburu kertas putih dan menunggu hingga malam, sebisa mungkin hanya untuk satu tujuan. Pulang. Sahur di rumah bersama Mamak, Bapak dan Adik. Keinginanku di ramadan setiap tahunnya. Tapi, kali ini berbeda, bukan tidak mensyukuri dimana aku berada, tapi perbedaan yang kurasakan benar-benar amat dirindukan.

    Pertama
    Kali ini berbeda, dulu sebisa mungkin saat aku menjalani masa pertama kuliah, kemudian disambut ramadan di akhir semester dua, dan awal semester tiga sekitar tahun 2013-an, aku selalu pulang pada ramadan pertama. Tahun kedua masih merasakan hal yang sama, sahur pertama di rumah. Hingga tahun lalu yang paling sedikit hitungan harinya. Tiba di rumah malam hari, sahur pagi hari bersama mamak, bapak, dan adikku yang kedua. Kemudian pulang ke tanah rantau siang hari. Awal pertama puasa yang ekstrim versiku, hingga suara adzan terdengar di hiruk pikuk jalanan, masuk menerobos jendela kaca bus yang membawaku. Bersykur aku masi ditemani kamu, botol mineral yang selalu ada di tas menemani sepanjang perjalanan. Tahun ini, aku tidak ditemani oleh riuhnya orang-orang, tidak perlu berdesak-desakan, tidak perlu berlari-lari agar dapat tempat paling depan, tidak perlu menunggu hingga malam, ramadan pertama kali ini aku tidak pulang.

    Kedua
    Kali ini berbeda, jika setiap tahun ramadanku selalu dibuka dengan sahur bersama di rumah. Mulai terasa berbeda sejak tahun lalu saat sahur pertama, adikku yang pertama tidak pulang. Tidak lengkap semuanya, rasanya ada yang kurang saat sahur tidak banyak yang bisa diceritakan atau ditertawakan bersama tentang hari-hari di kota orang. Sepanjang obrolan dan susana sahur, kita berdiskusi tentang pekerjaan, sekolah adikku dan kapan aku pulang lagi sebelum lebaran tiba. Memang usiaku sudah dapat dimaklumi sebagai usia anak yang bekerja dan jarang pulang karena pekerjaan. Tapi, semoga di usia ini pula aku tidak dicap sebagai anak durhaka yang lupa untuk mengabari dan menanyakan kabar orangtua #bukananakdurhaka


    Ketiga
    Kali ini berbeda, ramadan kali ini ditemani adikku yang sedang menempuh kuliah akhir semester empat. Kami hanya berdua dikontrakan. Sepi, iya. Ditambah lagi dia masih kuliah setiap hari kecuali minggu hingga akhir Mei. Dan aku yang sedang libur seminggu, di rumah sendiri menghabiskan waktu entah ngapain.
    Mamak : “Sekolah libur? Pulang Ramadan ini, wen?” (suara mamak dari telepon)
    Aku   : “Sekolah libur mak, aku libur, tapi aidil masih kuliah hingga akhir Mei ini.”
    Mamak : “Yauda, kalau gitu gak usah pulang aja dulu, nanti aidil gak ada kawan sahur di Medan”
    Aku   : “Iya mak” (dalam hati, kalau aku pulang, makan apa nanti dia pas sahur sama buka -,- .
    NB: Kede nasi disini jauh kali, lagian mahal kalau beli nasi bungkus terus2an  #hiduphematalaanakkos)

    Keempat
    Kali ini berbeda, biasanya aku hanya bisa masak rebusan, sambal dan tumisan. Aku mencoba hal yang baru, bagiku (gak tau kalau biasa aja menurut orang yang bisa masak). Rasa kepengan makan bakso berubah haluan jadi “Udah ah, buat Cilok aja di rumah”. Bermodal puluhan ribu, aku ke pajak, membeli bahan-bahan. Tada~~ rasanya enak tapi sepertinya next Cilok bahan merica dan udangnya harus dikurangi, soalnya kebanyakan untuk ukuran tepung yang aku sediakan. Dan jadilah sahur pertama tahun ini ditemani oleh adikku dan Cilok pertama buatanku. (Note: mungkin nanti aku akan share resep Ciloknya disini, semoga bermanfaat buat anak kos lainnya:)#resepinikhususbuatanakkos)



    Kelima
    Kali ini berbeda, sahur dan ramadanku tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Proses belajarku kali ini, aku ditemani orang-orang yang sama-sama ingin berproses dalam menulis. Senang, iya. Berbeda dengan ramadanku tahun-tahun sebelumnya yang diisi dengan Meme setiap hari, skripsi, juga KKN. Sahur kali ini diisi komentar usil, asik dan membangun. Juga diisi dengan ide-ide baik yang semoga bermanfaat bagi yang membacanya. #29haringeblog #ceritaramadanku

    Aku yakin bahwa ramadan setiap tahunnya selalu ditemani dengan hal-hal menakjubkan. Dimanapun kita berada, bersyukur adalah cara terbaik daripada mengeluh sana sini tentang keadaan. Buktinya masih banyak orang baik disekitar kita. Semoga yang ikutan dan penyelenggara kegiatan baik ini mendapat berkah dari Allah. Terimakasih sudah menemani sahurku dan proses menulisku sebulan kedepan. Glad to see and know you guys! #berkahramadan #29haringeblog #ceritaramadanku

    Catatan: buat yang kangen sahur bareng orangtua, mungkin bisa mengabari orangtua melalui telepon saat kita sudah selesai sahur, jadi serasa kayak sahur bareng kan ya :))



    Continue Reading
                                              foto: medanfoodblog

    Kuliner selalu menjadi topik pembicaraan yang tidak kalah habisnya ibarat timeline sosial media yang terus update. Terutama di Kota Medan yang terkenal akan sederat kuliner dengan ciri khas masing-masing. Yang membuatnya seolah-olah tidak habis untuk diperbincangkan. Bermula dari keinginan ingin merasakan bakso besar Medan, kami kemudian meriview berbagai bakso yang ada di Medan melalui internet hingga akhirnya bertemulah dengan Bakso Arema Ndeso 86 yang ada di jalan Gaperta. Menurut cerita yang beredar bakso di tempat ini memiliki ukuran yang  bisa dikatakan besar.
    Ketika menuju lokasi sangat disayang bahwa tempat ini ditutup. Kemudian kami kembali lagi esok harinya, akhirnya satu alasan yang didapat bahwa bakso ini memang khusus tutup setiap hari kamis karena malam jum’at para karyawannya mengadakan pengajian. Saat tiba di lokasi sore harinya, nyaris kami tidak mendapat tempat duduk dikarenakan pembeli yang membludak, namun setelah menunggu beberapa saat akhirnya terdapat beberapa tempat duduk yang kosong. Ternyata bukan hanya menyediakan bakso besar, Bakso Arema Ndeso 86  ini juga menyediakan bakso raksasa beranak berukuran 1 kg. Namun sangat disayangkan, sore hari bakso raksasa beranak medan tersebut telah habis dan kami akhirnya kembali lagi esok siangnya.
    Bakso Arema Ndeso 86  telah berdiri sejak tahun 2013 dan 4 bulan sejak pertama berdiri akhirnya pemilik bakso ini menggagas untuk membuat bakso raksasa beranak medan dan bisa jadi menjadi bakso raksasa beranak medan pertama. Adalah Hendrik yang berasal asli dari kota Malang pemilik Bakso Arema Ndeso 86 yang mempunyai 7 karyawan, diantaranya adalah 1 orang medan dan 6 orang malang asli. Hendrik mengungkapkan bahwa saat berjualan sang pedagang haruslah berinovasi dan mempunyai trik untuk menggaet pelanggan lebih banyak lagi. Maka dari itu, bakso raksasa beranak medan ini adalah salah satu inovasi bakso karya Bakso Arema Ndeso 86.
    “Namanya kita jual makanan, jual makan ini simple, harus inovasi. Gimana cara narik pelanggan dan ada sensasi”, jelas Hendrik.
    Salah satu yang menjadikan tempat ini istimewa adalah ada berbagai jenis menu bakso alias surganya bakso. Berbagai menu bakso raksasa yang disajikan diantaranya bakso biasa (Rp.14.000), bakso jumbo (Rp. 20.000), bakso jumbo spesial (Rp. 25.000), bakso gila Rp. 35.000 dan yang paling besar dengan ukurna raksasa adalah bakso raksasa beranak (Rp.60.000).
    Bakso raksasa beranak ini bisa dikatakan baru saja launching di awal tahun 2017 dan masih sedikit yang mengetahui keberadaannya. Namun bagi pelanggan tetap Bakso Arema Ndeso 86, bakso ini sudah menjadi favorit. Bayangkan saja, dalam satu hari bakso raksasa beranak ini bisa habis sebanyak 50 buah (sesuai stik yang disediakan penjual). Dikatakan bakso raksasa beranak karena ukurannya yang paling besar diantara bakso lainnya dan setelah dibelah berisi daging, bakso kecil dan juga telur puyuh yang banyak. Bakso raksasa beranak ini merupakan bakso daging asli dan tentu saja pembeli tidak akan menyesal saat menikmatinya.
    “Yang lagi booming sekarang ini adalah bakso beranak dan bakso gila.”, ungkap salah satu karyawannya. Ukuran bakso raksasa beranak ini diperkirakan hampir sebesar bola futsal dan pastinya sangat cocok untuk pecinta bakso raksasa atau yang sedang lapar. Ukuran bakso raksasa beranak yang besar bahkan membuat satu mangkok bakso ini tidak kuat jika hanya dimakan oleh satu orang. Minimal bisa dimakan oleh 2 sampai 3 orang, tetapi jika kalian termasuk yang sedang lapar berat dan jika sanggup menghabiskan bakso raksasa beranak ini sangat direkomendasikan untuk kalian.
    Hal unik lainnya dari bakso raksasa beranak ini adalah akan terjual habis hanya dalam waktu dua jam atau paling lama akan habis sekitar jam 2 atau jam 3 sore.
    “Bakso raksasa beranak yang besar biasanya habis dua jam saja atau paling lam jam 2 atau 3” ujar hendrik menjelaskan kepada tim Cerita Medan.
    Proses pembuatan bakso raksasa beranak ini juga bukanlah hal yang mudah. Pemilik dan para karyawan biasanya akan mulai membuat bakso raksasa beranak di pagi hari tepatnya pukul 4 pagi. Untuk proses pembuatan bakso-bakso ini biasanya memakan waktu sekitar 4 jam. Bakso raksasa beranak  sendiri dibuat sebanyak 50 buah oleh karyawan dan biasanya akan habis setiap harinya sebelum jam 3 sore. Maka dari itu buat kalian yang sangat ingin mencicipi bakso raksasa beranak ini disarankan untuk datang sebelum jam 2 siang.  Yang lebih unik lagi, semua bakso ditempat ini biasanya akan habis setiap harinya alias tidak ada sisi untuk besok sehingga esok harinya pemilik akan menyediakan kembali bakso yang segar dan siap disantap.
    Bakso Arema Ndeso 86 ini biasanya buka pukul 10.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB tergantung bakso yang habis. Maka dari itu sangat disarankan untuk datang sebelum jam 5 atau kalian akan kehabisan bakso raksasa beranak lezat ini. Kalau soal rasa tidak diragukan lagi. Bakso Arema Ndeso 86 ini sangat gurih dan dan penuh dengan daging disetiap baksonya. Jadi jangan ragu-ragu jika inigin merasakan kelezatan bakso daging sapi.
    Febriani salah satu warga yang berfrofesi sebagai mahasiswa psikologi disalah satu universitas Medan mengungkapkan baru pertama kali datang ketempat ini dan langsung suka dengan kelezatan baksonya.
    Nah, buat konkawan seklain khususnya pecinta bakso, yuk mampir kesini segera dan ramekan kuliner khas medan bakso raksasa beranak.

    Catatan: kelupaan moto baksonya sangking serunya live instagram dan ngevideoin..
    Continue Reading

    Menghadapi ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)merupakan momok mengerikan bagi sebagian pelajar. Tapi, ada juga yang berpendapat positif bahwa ujian SBMPTN merupakana salah satu tantangan bagi mereka. Memasuki akhir bulan Mei yakni menghadapi kenyataan bahwa ujian SBMPTN akan dilaksanakan hanya dalam hitungan hari lagi. Beberapa diantara  kita pasti sudah menyiapkan segala usaha untuk dapat lulus SBMPTN dan diterima oleh Perguruan Tinggi Negeri  (PTN) favorit kita. Nah, selain persiapan akademisi untuk kebutuhan ujian, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan lagi agar kita lulus dan sukses ujian SBMPTN
    1.      
          1. Menyusun jadwal dan target
    Apa gunanya melakukan hal ini, salah satu gunanya adalah agar kita tidak bermain-main untuk menghadapai SBMPTN. Dalam hal ini anda bisa menyusun target sendiri untuk diri anda. Misalnya membuat daftar pelajaran apa yang akan dibahas atau soal mata pelajaran apa yang harus dikerjakan hari ini. Anda juga bisa menentukan dirumah siapa bisa berdiskusi kali ini. Nah, buat teman-teman  yang masih bingung menyusun target,  bisa membuatnya seperti roster mata pelajaran. Dua jam dipagi hari digunakan unutk membahasa soal biologi. Tiga jam di sore hari digunakan untuk  diskusi dirumah guru. Pastikan bahwa kita mengikuti semua jadwal dan target yang telah kita buat.

    2.     2. Bahas soal SBMPTN tahun lalu
    Soal SBMPTN biasanya memliki jenis soal yang sama. Bukan berarti soalnya benar-benar sama. Tapi bisa dikatan soal-soal SBMPTN umumnya setiap tahun selalu mempunyai jenis yang sama baik itu dari tingkat kesulitannya. Diantaranya Test Potensi Akademik (TPA) dan mata pelajaran dasara serta umum. Dengan mengenali soal-soal tahun lalu, tidak menutup kemungkinan kita akan memahami medan perang yang kita hadapi serta tingkat kesulitan soal yang akan dikerjakan nantinya. Selain itu, keuntungannya membahas soal tahun lalu adalah apabila kita tidak tahu jawabannya kita masih bisa bertanya dengan guru atau teman kita cara utnuk menjawabnya.

    3.       3. Rangkum Materi
    Apabila kita merasa bahwa soal SBMPTN tahun lalu sangat sulit dan kita lupa caranya, kita bisa lakukan dengan cara merangkum materi yang ada. Saat menemukan soal yang sulit, kita bisa merangkum materi dan mancari rumus untuk memecahkan soal tersbut. Inilah gunanya merangkum materi. Ibarat kita tidak akan bisa menjadi pemain bola yang handal jika kita tidak tahu bagaimana cara menendang bola dengan baik. Kalau bisa kita juga menemukan rumus-rumus cepat dalam memjawab soal. Bisa dilakukan dengan membeli buku rumus cepat.

    4.       4. Lakukan Try Out
    Try out biasanya dilakukan oleh bimbingan belajar yang tersedia disetiap kota. Biasanya mereka menyajikan jenis dan kategori soal yang hampir sama dengan soal-soal SBMPTN SEBELUMNYA. Untuk apa dilakukan try out ini? Untuk menguji diri kita apakah sudah mengalami pengingkatan dalam belajar untuk menghadapi SBMPTN. sehingga kita bisa tau sejauh apa selama ini kita sudah belajar dan sudah seberapa siap kita mengahdapai SBMPTN.

    5.       5. Perhatikan Hal teknis
    Siapa bilang menghadapai SBMPTN hanya disii dengan belajar melulu. Hal teknis lainnya juga harus diperhatikan. Misalnya sebelum ujian SBMPTN kita sudah menyediakan pensil khusus computer, penghapus atau bahkan membawa pensil cadanagn jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan. Selain itu saat mengisi Lembar Jawaban Kertas (LJK) juga usahakan berhati-hati, dan apabila salah memilih jawaban hapuslah dengan bersih.

    6.       6. Jaga kesehatan
    Walaupun kita bisa dikatan gila balajar demi SBMPTN tapi kita juga tidak boleh abai terhadapa kesehatan kita. Tidurlah secukupnya. Istirahatlah bila kelelahan. Karena akan sangat tidak enak jika saat hari H SBMPTN tubuh kita tidak fit atau malah terserang penyakitr. Karena hal tersebut akan sangat emmepngaruhi kinerja kita saat menjawab soal. Untuk itu tetap jagalah kesehatan.

    7.       7. Berdoa
    Setelah melakukan smeua usaha yang bisa kita lakukan dengan maksimal untuk lulus SBMPTN, mulaila, maka tetap janagn lupa berdoa demi kelancaran ujian. Karena kita tidak akan pernah tau hal apa yang akan menghambat kita kedepannya dan kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi dimasa depan.

    Gampang bukan? Silahkan diterpakan mumpun masih beberapa hari lagi menuju ujian SBMPTN. Tetap percaya pada diri sendiri bahwa jika kita berusaha semaksimal mungkin dan berdoa semua hal bisa mungkin terjadi.


    x
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me



    Halo! Saya Weny Ms.
    Seorang Blogger dan Freelancer Illustrator.

    My Social Media

    • twitter
    • instagram

    recent posts

    Blog Archive

    • ▼  2020 (3)
      • ▼  July 2020 (1)
        • Membaca Buku: Beneran GAK ASYIK tapi SERU!
      • ►  May 2020 (1)
      • ►  April 2020 (1)
    • ►  2018 (2)
      • ►  May 2018 (2)
    • ►  2017 (2)
      • ►  May 2017 (2)
    • ►  2016 (1)
      • ►  April 2016 (1)
    • ►  2013 (5)
      • ►  August 2013 (1)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  April 2013 (2)
      • ►  March 2013 (1)
    Powered by Blogger.

    Popular Posts

    Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top