Berbagi Cerita

    • Home
    • P(ar)enting
    • Lifestyle
    • Opini
    • My Illustration
    • About Me

     Saat aku masih kecil, hidup di kota dengan masyarakat yang minoritas islam membuatku bukan semerta merta tak dapat menjalankan ibadah. Tarutung, kota kelahiranku atau dalam bahasa batak disebut bona pasogit yang berarti kampung halaman. Salah satu yang membuatku paling bersyukur pernah tinggal di kota ini adalah penduduknya yang ramah dan udaranya yang sejuk setiap hari. Bagiku dulu yang masih kecil, kota ini terasa sangat besar sampai sebelum aku bertemu Pematangsiantar maupun Medan.
    Ramadan di Tarutung
    Memori yang kuingat saat ramadan di kota ini adalah salah satu mesjid besar yang bernama mesjid Syuhada. Kami tumbuh bersama. Ah, bukan berarti mesjid itu hidup, punya kaki, tangan lalu dapat berlari-lari sesukanya. Tumbuh bersama disini adalah aku yang mulai beranjak gede dan mesjid yang mulai renovasi sana-sini. Terakhir kali aku datang ke mesjid ini sekitar tahun lalu, sudah ada kamar mandi yang besar dan lebar daripada yang dulu. Senang sekali, dia juga berproses bahkan hingga sekarang, saat aku tak ada di kota itu lagi.

    Hal yang paling kusuka saat ramadan di kota ini adalah ramainya malam saat ramadan. Jarak antara rumahku dan mesjid Syuhada kira-kira sekitar 500 meter lebih. Tak terasa bila jalan ramai-ramai. Apalagi sebelum aku punya telekungku sendiri, aku pakai telekung punya mamak kemudian pakai celana di dalamnya. Ukuran 1 mukenanya bahkan sudah sampai ke batas mata kaki ku, panjang bukan? Hampir rata-rata dulu penduduk di kota ini menghabiskan sholat taraweh di mesjid Syuhada. Dan yang paling membekas adalah catatan buku ibadah dari sekolah saat aku kelas 1 SMP. Ada tabel khusus yang harus diisi setiap harinya jika kita melaksanakan sholat taraweh. Sebagai buktinya kalau kita sholat, ada tempat khusus yang ditanda tangai oleh imam mesjid dan orangtua. Setelah itu baru dikumpul ke guru setiap pelajaran agama setiap minggunya. Nah, puasa-puasa gak bisa bohong loh ya :D

    Ramadan di Pematangsiantar
    Jarak antara rumahku dan mesjid saat di siantar (penyingkatan pematangsiantar) tidak terlalu jauh. Masih dalam lingkup satu kampung. Dekat saat aku tinggal di jalan kabu-kabu. Namun agak jauh saat kami sekeluarga sudah pindah dan tinggal di simpang kerang. Saat berada di kota ini aku termasuk jarang keluar malam, kecuali moment-moment tertentu. Misalnya saat ada kegiatan, dari rumah Uwak atau yang paling sering saat ramadan. Yang membuatku selalu rindu untuk pulang saat ramadan adalah pergi taraweh bersama Mamak. Soalnya kita berdua jarang keluar bersama kecuali buat belanja ke pajak.
    Mamak : “Infaq uda wen?”
    Aku   : “ Uda mak”
    Percakapan yang terjadi saat mau taraweh. Oiya, di mesjid ini suara bilalnya bagus kali. Sampai-sampai pengen pualng dan taraweh di siantar aja kalau ingat suara bilal di mesjid kami. Benar-benar khas dan bermakna.

    Ramadan di Cempedak Lobang
    Nggak pernah nyangka kalau bakal KKN disini. Sebenarnya saat ramadan di kampung ini ada hal yang membuat deg-deg an gak karuan. Apalagi saat sholat di mesjid dusun III. Deg-deg an bukan perihal anak muda kampung yang ganteng, tapi soal teman satu KKN. Si fulan saat sholat taraweh bareng kami di Mesjid dusun III selalu ‘kesurupan’, tapi tidak saat sholat di mesjid dusun II. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, kami memtuskan untuk berpencar perihal sholat taraweh. Sebagian di dusun III dan sebagian lagi di dusun II. Benar-benar membekas dan membuat rindu sampai sekarang. Tapi dibalik itu semua, ada yang lebih horor lagi.

     
    (foto KKN UIN SU tahun 2015) 

    Ramadan di Medan
    Sudah beberapa tahun melalui Ramadan di kota ini. Banyak yang datang silih berganti, begitupun dengan teman-teman seperjuangan yang dulu sering taraweh bersama-sama. Kini, sudah kembali ke kampung halaman. Kemungkinan sama seperti tahun lalu, tiga perempat ramadan kali ini akan aku habiskan di Medan, perihal urusan pekerjaan yang tak kunjung selesai juga. Aku teringat saat ngontrak di kosan lama. Jadi, gerbang biasanya sudah ditutup pukul 10 malam. Kebetulan saat kami taraweh sekalian tadarus pulang hingga pukul setengah 11 malam. Gerbang belakang yang lebih dekat dengan mesjid ternyata sudah dikunci. Alhasil, kami mutar ke gerbang depan dan bersyukur belum dikunci. “Untung belum dikunci, kalau gak uda ku panjat gerbang ini” gumam dalam hati.

    Jangan takut di cap nakal kalau sering keluar malam terus baliknya malam. Dengan catatan pergi ketempat yang baik ya, ke mesjid apalagi di bulan ramadan. Sebenarnya dapat taraweh di mesjid yang bagus walaupun ada di kota yang berbeda adalah sesuatu yang harus paling banyak kita syukuri.
    Masih banyak yang pengen taraweh tapi gak bisa, karena mesjidnya jauh atau mesjidnya bakal roboh kalau banyak jamaah yang datang.



    So, selagi masi hidup dilingkungan dengan mesjid bagus dan jamaah yang banyak manfaatin waktu sebaik mungkin ya :)
    Kira-kira tahun depan kita akan taraweh di mana lagi ya :) Cant wait for that! Semoga masih bisa bertemu dengan ramadan tahun depan :):)

    Catatan: Bagi teman-teman yang mau berdonasi buat pembangun mesjid di daerah pelosok bisa donasi langsung melalui kitabisa.com

    Akan sangat menyenangkan jika mengetahui bahwa kita sama-sama saling bantu buat taraweh mereka disana :) (sekarang uda bisa donasi pakai Go-Pay loh, lebih mudah kan ya :):) )



    Continue Reading
        (Foto by Freepik.com)

    Sebenarnya apa yang paling ku inginkan saat ramadan tiba? Sulit untuk menimbang-menimbang keinginan, begitu banyak, tak terhitung dan belum tentu bisa terwujud. Bagaimana dengan orang-orang ? Apakah juga menginginkan hal yang sama dengan apa yang paling kuinginkan? Aku teringat saat bergegas buru-buru melewati aspal hitam bersama kernek dan orang-orang, hingga berdesak-desakan didalamnya kemudian. Berburu kertas putih dan menunggu hingga malam, sebisa mungkin hanya untuk satu tujuan. Pulang. Sahur di rumah bersama Mamak, Bapak dan Adik. Keinginanku di ramadan setiap tahunnya. Tapi, kali ini berbeda, bukan tidak mensyukuri dimana aku berada, tapi perbedaan yang kurasakan benar-benar amat dirindukan.

    Pertama
    Kali ini berbeda, dulu sebisa mungkin saat aku menjalani masa pertama kuliah, kemudian disambut ramadan di akhir semester dua, dan awal semester tiga sekitar tahun 2013-an, aku selalu pulang pada ramadan pertama. Tahun kedua masih merasakan hal yang sama, sahur pertama di rumah. Hingga tahun lalu yang paling sedikit hitungan harinya. Tiba di rumah malam hari, sahur pagi hari bersama mamak, bapak, dan adikku yang kedua. Kemudian pulang ke tanah rantau siang hari. Awal pertama puasa yang ekstrim versiku, hingga suara adzan terdengar di hiruk pikuk jalanan, masuk menerobos jendela kaca bus yang membawaku. Bersykur aku masi ditemani kamu, botol mineral yang selalu ada di tas menemani sepanjang perjalanan. Tahun ini, aku tidak ditemani oleh riuhnya orang-orang, tidak perlu berdesak-desakan, tidak perlu berlari-lari agar dapat tempat paling depan, tidak perlu menunggu hingga malam, ramadan pertama kali ini aku tidak pulang.

    Kedua
    Kali ini berbeda, jika setiap tahun ramadanku selalu dibuka dengan sahur bersama di rumah. Mulai terasa berbeda sejak tahun lalu saat sahur pertama, adikku yang pertama tidak pulang. Tidak lengkap semuanya, rasanya ada yang kurang saat sahur tidak banyak yang bisa diceritakan atau ditertawakan bersama tentang hari-hari di kota orang. Sepanjang obrolan dan susana sahur, kita berdiskusi tentang pekerjaan, sekolah adikku dan kapan aku pulang lagi sebelum lebaran tiba. Memang usiaku sudah dapat dimaklumi sebagai usia anak yang bekerja dan jarang pulang karena pekerjaan. Tapi, semoga di usia ini pula aku tidak dicap sebagai anak durhaka yang lupa untuk mengabari dan menanyakan kabar orangtua #bukananakdurhaka


    Ketiga
    Kali ini berbeda, ramadan kali ini ditemani adikku yang sedang menempuh kuliah akhir semester empat. Kami hanya berdua dikontrakan. Sepi, iya. Ditambah lagi dia masih kuliah setiap hari kecuali minggu hingga akhir Mei. Dan aku yang sedang libur seminggu, di rumah sendiri menghabiskan waktu entah ngapain.
    Mamak : “Sekolah libur? Pulang Ramadan ini, wen?” (suara mamak dari telepon)
    Aku   : “Sekolah libur mak, aku libur, tapi aidil masih kuliah hingga akhir Mei ini.”
    Mamak : “Yauda, kalau gitu gak usah pulang aja dulu, nanti aidil gak ada kawan sahur di Medan”
    Aku   : “Iya mak” (dalam hati, kalau aku pulang, makan apa nanti dia pas sahur sama buka -,- .
    NB: Kede nasi disini jauh kali, lagian mahal kalau beli nasi bungkus terus2an  #hiduphematalaanakkos)

    Keempat
    Kali ini berbeda, biasanya aku hanya bisa masak rebusan, sambal dan tumisan. Aku mencoba hal yang baru, bagiku (gak tau kalau biasa aja menurut orang yang bisa masak). Rasa kepengan makan bakso berubah haluan jadi “Udah ah, buat Cilok aja di rumah”. Bermodal puluhan ribu, aku ke pajak, membeli bahan-bahan. Tada~~ rasanya enak tapi sepertinya next Cilok bahan merica dan udangnya harus dikurangi, soalnya kebanyakan untuk ukuran tepung yang aku sediakan. Dan jadilah sahur pertama tahun ini ditemani oleh adikku dan Cilok pertama buatanku. (Note: mungkin nanti aku akan share resep Ciloknya disini, semoga bermanfaat buat anak kos lainnya:)#resepinikhususbuatanakkos)



    Kelima
    Kali ini berbeda, sahur dan ramadanku tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Proses belajarku kali ini, aku ditemani orang-orang yang sama-sama ingin berproses dalam menulis. Senang, iya. Berbeda dengan ramadanku tahun-tahun sebelumnya yang diisi dengan Meme setiap hari, skripsi, juga KKN. Sahur kali ini diisi komentar usil, asik dan membangun. Juga diisi dengan ide-ide baik yang semoga bermanfaat bagi yang membacanya. #29haringeblog #ceritaramadanku

    Aku yakin bahwa ramadan setiap tahunnya selalu ditemani dengan hal-hal menakjubkan. Dimanapun kita berada, bersyukur adalah cara terbaik daripada mengeluh sana sini tentang keadaan. Buktinya masih banyak orang baik disekitar kita. Semoga yang ikutan dan penyelenggara kegiatan baik ini mendapat berkah dari Allah. Terimakasih sudah menemani sahurku dan proses menulisku sebulan kedepan. Glad to see and know you guys! #berkahramadan #29haringeblog #ceritaramadanku

    Catatan: buat yang kangen sahur bareng orangtua, mungkin bisa mengabari orangtua melalui telepon saat kita sudah selesai sahur, jadi serasa kayak sahur bareng kan ya :))



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me



    Halo! Saya Weny Ms.
    Seorang Blogger dan Freelancer Illustrator.

    My Social Media

    • twitter
    • instagram

    recent posts

    Blog Archive

    • ►  2020 (3)
      • ►  July 2020 (1)
      • ►  May 2020 (1)
      • ►  April 2020 (1)
    • ▼  2018 (2)
      • ▼  May 2018 (2)
        • #Berkahkedua : Berteman dengan Malam
        • #Berkahpertama : Kali Ini Berbeda
    • ►  2017 (2)
      • ►  May 2017 (2)
    • ►  2016 (1)
      • ►  April 2016 (1)
    • ►  2013 (5)
      • ►  August 2013 (1)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  April 2013 (2)
      • ►  March 2013 (1)
    Powered by Blogger.

    Popular Posts

    Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top