ALWAYS MISSING THEM
11:03 AM
Kawan dengarlah yang akan aku katakan
Tentang dirimu yang selama ini
Ternyata kepalamu akan selalu botak
Eh.. kamu kayak gorilla
Cobalah kamu ngaca tuh bibir balapan
Dari pada gigi loe kayak kelinci
Yang ini uda gendut suka marah-marah
Kau cacing kepanasan..
Tapi ku tak peduli.. kau selalu dihati
*Kamu sangat berarti.. istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup
masing-masing
Ingatlah Hari Ini..
Ketika kesepian menyerang diriku
Gaenak badan resah tak menentu
Kutahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku..
Don’t you worry just be happy
Temanmu disini..
Project Pop – Ingatlah Hari Ini
*
* *
Hujan
turun lagi. Kali ini tidak selebat yang biasanya. Hanya gerimis yang jatuh
perlahan-lahan. Beberapa hari ini hujan selalu datang mengguyur kota ini. Hujan
yang selalu membuat orang-orang harus menghentikan berbagai aktivitasnya di
jalanan. Seorang gadis menghirup nafas perlahan. Gadis bernama Windy itu kini
berdiri di ambang pintu sambil memeluk sebuah album. Ia mendongakkan kepalanya
keatas mencoba melihat langit. “Hujan” gumamnya dalam hati.
Windy berjalan menuju balkon rumah.
Mencoba duduk di salah satu bangku disana.
Ia memeluk erat-erat album tahunan miliknya. Dengan lembut ia membuka
halaman sampul album itu. Sebuah pernyataan singkat tertera di halaman awal
album miliknya
Meski
aku tidak bersama mereka bukan berarti aku harus melupakan mereka
Perlahan, satu per satu Windy mulai
membuka halaman berikutnya. Matanya kini memandang ke arah halaman selanjutnya.
Tapi-siapa pun yang melihatnya pasti tahu bahwa meskipun gadis itu sedang
memandang ke arah album dihadapannya, pikirannya jauh menerawang-seakan sedang
memikirkan sesuatu.
Ya.
Dia sedang merindukan orang-orang yang ada di album itu. Benarkah? Sepertinya
bukan hanya itu. Dia bukan hanya merindukan orang-orang yang ada disana tapi
dia juga merindukan dan sangat merindukan salah satu diantaranya. Seseorang.
Salah seorang sahabat yang selalu membuat Windy rindu akan segala candannya,
nasihatnya serta kegigihannya.
A
few Months
Ago
***
Friday,
20 Agust
Hari ini aku berangkat.
Doain
aku yah. Sampai jumpa lebaran tahun depan
Sender
: Farid
04:30:15
Friday 20.08
Seulas senyum menghiasi bibir Windy.
Hari ini Farid akan berangkat pergi meraih mimpinya. Ia teringat akan
perjuangan sahabatnya itu saat bangkit dari empat kali kegagalan.. Windy bahkan
tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya jika dia berada di
posisi Farid. Windy tidak akan sekuat Farid. Ia yakin ia tidak akan sekuat
Farid.
Hati-hati
di jalan. Jangan lupakan kami.
Farid,
Saat kamu mampu bermimpi. Saat itu lah kamu harus mampu melewati perjuangan untuk
meraihnya
Congratulation.
To
: Farid
04:36:35
Friday 20:08
“Selamat berjuang” Windy berkata
perlahan.
Dan
akhirnya, Allah memang memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang-orang yang
benar-benar berjuang dan benar-benar sabar. Bukankah itu janji Allah?. Allah memberikan
Farid hadiah terindah yang memang pantas untuk segala perjuangannya. Lulus di
salah satu sekolah kedinasan paling bergengsi di Negeri ini.
Windy
masih tersenyum membayangkan sahabatnya itu. Kini Windy benar-benar meyakini
satu hal.
Saat kamu mampu
bermimpi. Saat itu lah kamu harus mampu melewati perjuangan untuk meraihnya Kekecewaan
adalah cara Allah untuk mengatakan “Bersabarlah, Aku punya sesuatu yang lebih
baik untukmu
***
Thurs,
19 April
“Windy?”
seseorang menepuk pundaknya dari arah samping. “kok duduk sambil ngelamun, what
happen?” tanya orang itu kemudian ikut duduk disamping Windy.
Windy
menggelengkan kepalanya. Melihat ke arah seseorang disampingnya. “Enggak ada
apa-apa kok Dede, lagi ga mikirin apa-apa”
jawabnya. Matanya kini memandang ke arah orang-orang dihadapan mereka.
“Jangan
coba-coba berbohong padaku” ancam Dede. “Apa karena hari ini kita foto terakhir
kali pakek baju putih abu-abu?”
“Haaahhhh”
kini Windy tersenyum.
“Ada apa ni ribut-ribut?” timpal
seseorang. Sontak Windy dan Dede menoleh ke arah sumber suara disamping mereka.
“Gak ada apa-apa kok Farid”
Windy menjawab dengan lesu.
“Napa
sih? Kok nampak banget sedihnya. Jangan karena ini hari terakhir kita pakek
baju putih abu-abu” celoteh Farid sambil duduk disamping Windy.
“Eh..
Liat tuh yang lain pada sibuk nyusun kursi. Pak Tri uda dipanggil belum? Kita
kan mau foto bareng wali kelas kita?” Windy mengalihkan pembicaraan.
“Hei
hei hei kamu kamu. Ntar jangan rindukan akuuu ya” teriak Andi dengan celotehan
khasnya, disambut dengan tawa dan canda riuh dari semua teman-teman sekelas
Windy.
“Pak
Tri uda datang tuh” teriak Dede dan dengan sigap berdiri “Ayo, kita foto
bareng. Ajaknya” kemudian segera pergi menuju teman-teman yang sedang
bersiap-siap.
“Ayo
Rid” ajak Windy sambil berdiri. Tiba-tiba Windy merasa langkah kakinya
terhenti. Sesuatu sedang menariknya. Farid memegang pergelangan tangannya.
“Heii,
gak muhrim!” teriak Windy
“Upss.
Khilaf!” jawabnya sambil tersenyum. Kini Farid memasukkan tangan nya ke kantong
dan berdiri disamping Windy. “Kira-kira kita akan jadi apa 5 tahun lagi?”
tanyanya.
“Jangan sampai gak sukses ya” jawab
Windy
“Akan kuberi tahu satu hal, bisa
pinjamkan telingamu?” tanya Farid.
“Tentang apa itu?”
“Jangan
pernah berhenti melangkah menuju mimpimu” Farid berbisk perlahan.
“Pasti”
tegas Windy. Kini mereka tertawa perlahan.
“Ayo!”
ajak Farid. Mereka berjalan perlahan
“Farid” panggil Windy.
“Ya?” jawab Farid
“Suatu saat aku akan merindukanmu
dan yang lainnya” kata Windy tersenyum.
“Rindukanlah sesukamu” Farid
tertawa
Dengan segera mereka menuju ke
tengah-tengah teman-teman mereka dan siap untuk berfoto terakhir kalinya dengan
seragam putih abu-abu.
“Oke.
Semua siap? Jangan Lupa senyum” teriak wali kelas mereka.
“SIAPPPPPP!”
“Oke.
1.2.3. CHEERRSS”
***

0 komentar