Berbagi Cerita

    • Home
    • P(ar)enting
    • Lifestyle
    • Opini
    • My Illustration
    • About Me


    EARTH without ART is EH. Bumi tidak akan pernah indah tanpa adanya Seni. semua orang merasakannya. Merasuki jiwa, mempengaruhi pikiran dan mewarnai hidup. Seni ada dimanapun. Bukan hanya musik,  lukisan. bahkan segala yang ada dsekitar kita bisa jadi kejadian ataupun moment-moment cantik yang dibadikan dalam sebuah benda kecil sederhana, bisa berarti seni. Its Photografi World. Mewakili semua kejadian yang pernah terjadi disekeliling kita, hal sepenting apapun, sekecil apapun yang bahkan tak pernah terfikirkan yang tak tergubris bahkan terabaikan justru terkadang keindahannya melebihi penglihatan mata telanjang.  Its Photografi World. Seni itu bisa berarti apa saja.

    Hasil belajar pertama megang kamera *diajari sama Senior Ad-dakwah-bag Zuhri Ritonga*. Hal-hal kecil yang indah ini, yang bahkan sering diabaikan oleh mata. (Maaf kalau jelek ^-^)


     Yang kedua

    Continue Reading



                “Kalian sudah kalah dari anak IPS. Satu-satunya kesempatan yang kalian punya adalah lomba melukis. Untuk membuktikan bahwa kelas kalian memang unggulan, menangkan lomba melukis tersebut. Siapa perwakilan dari kelas ini untuk lomba melukis?”
                “Weny mam”
                “Weny kamu harus juara satu”
                Apa?? Whatt?
    * * *
    Udara panas masih selalu saja menghantui kota ini menjelang tengah hari. Aku mengambil buku tipis dari tas mungilku, dengan cepat dan lihai aku mengipasi wajahku. Panas. Pastinya. Bahkan sangat panas. Ditambah lagi dengan pelajaran Bahsa Inggris yang semakin membuat ruangan ini semakin panas. Jelas sekali aku Weny benar-benar tidak menyukai pelajaran tersebut. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin dikarenakan terlalu banyak formula-formula yang ribet dan bikin pusing kepala.
                “Uda selesai menerjemahkannya?” tanya Mam atau Mrs. Rahma dengan nada suara yang bisa membangunkan orang sekampung. Ya. Aku dan semua orang di sekolah ini tahu. Beliau adalah guru yang tegas.
                “Belum Mam” jawab kami dengan serempak.
                “Ngomong-ngomong, saya sangat kecewa karena kalian bertengkar dengan anak jurusan IPS kemarin. Kalau anak IPS menang pertandingan-pertandingan olahraga sudah wajar, karena itu sudah menjadi bagian jurusan mereka.”
                Upss. Kejadian kemarin lagi. Duuh Mam, kenapa sih masih mengungkit kejadian kemarin lagi ?. Hanya karena wasit yang tidak adil saat pertandingan bola antara kelasku 3 IPA 1 dan 3 IPS 1, sehingga skor nilai pun dipertanyakan! Dan kemaren, hampir saja seluruh pemain beradu jotos. Dan untungnya keadaan aman dan terkendali.
                “Bukan Mam, wasitnya yang tidak adil dan salah memberikan skor.” sela Boby
                “Benar Mam” sambung Reza.
                “Iya tetapi paling tidaknya kalian lebih baik mengalah. Saya sudah tau  mereka sudah banyak memenangkan lomba di perayaan Hari Sumpah Pemuda ini” kata Mam “Kalian sudah kalah dari anak IPS. Satu-satunya kesempatan yang kalian punya adalah lomba melukis. Untuk membuktikan bahwa kelas kalian memang unggulan, menangkan lomba melukis tersebut. Siapa perwakilan dari kelas ini untuk lomba melukis?”
                Memenangkan lomba melukis? Oh My God. Perasaanku semakin lama semakin gak enak dan gelisah.
                “Weny mam”  teriak teman-temanku.
                “Weny kamu harus juara satu”
                Apa?? Whatt? Jleeeb. Rasanya seribu pisau sedang menusuk kepalaku saat ni. Aku? Impossible! Oh God. Aku memang pernah mengikuti lomba melukis. Tapi tak pernah menang sama sekali. Dan sekarang ? Mam menantangku untuk memenangkan perlombaan itu ? Ini benar-benar hal tergila dalam hidupku. Yang lebih mengerikan lagi, teman-temanku sangat berharap padaku. Apa yang harus ku lakukan?
    * * *
                “Oke” kataku sambil menarik nafas perlahan “Ini pensil, ini penghapus, kertas dan cat lukis” kataku pada diri sendiri. Aku menatap benda-benda itu dengan seksama. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tetapi aku masih dan mematung di depan meja belajar di kamarku. Apa yang harus ku gambar?. Tema Lomba itu adalah Sekolah. Dan dengan sangat terpaksa aku harus memikirkn gmabar apa yang akan aku lukis.
                “Bagaimana ini?” kataku perlahan. Beberpa menit berlalu. Tiiiing. Sebuah inspirasi muncul diatas kepalaku. Tanganku mulai bergerak untuk menggambar sketsa. Dengan perlahan, tanganku dan pikiranku mulai mengombinasikan imajinasi di atas kertas. Apa yang ku gambar kali ini? Hanya seorang Guru dan beberapa murid yang sedang belajar di sebuah pondok kecil. Aku memandang sejenak gambar sketsaku. Mungkin menarik. Dan mungkin ini yang akan aku gambar di lomba nanti. Mungkin.
    * * *
    Hari H.
    Aku menarik nafas perlahan. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Lomba itu akan dimulai 2 jam lagi tepatnya pukul 3 siang.
    “Semangat” Septi memberikan dukungan padaku. Aku tersenyum perlahan. Aku masih ragu dengan gambar yanag akan aku lukis. Aku mulai mondar-mandir keluar ruangan. Dan benar saja, ternyata aku harus mengganti gambarku. Dengan cepat aku kembali ke dalam ruangan dan mengambil pensil dan penghapus. Ini yang kucari. Ini perasaanku. Ahhh. Kenapa tidak terpikirkan dari kemarin-kemarin. Goresan pensil mulai terurai di kertas putih di tanganku. Pikiran dan tanganku masih bekerja. Masih mengombinasikan sesuatu yang luar biasa. Semangatku bahkan menjadi dua kali lipat. Aku tidak gugup lagi. Aku tidak gugup. Thanks God atas imajinasi yang Kau berikan.
    “Siap” aku tersenyum lebar. Aku memperhatikan kembali sketsa gambar di hadapanku. Gambar ruangan depan kelasku terukir indah disana. Aaah. Seharusnya ini yang ku gambar. Semua perasaanku tercurahkan disana. Di ruangan kelasku. Bukan hanya sekedar gambar biasa. Gambar itu mempunyai cerita tersendiri. Tentang aku dan teman-temanku. Baiklah! Akan aku lakukan. Teman-temanku percaya padaku. Dan aku pasti bisa. Aku harus bisa. Bismillahirromanirrohim.
    * * *
    “Juara 3 dari 3 IPA Satu atas nama Dimas” sahut Protokol. Aku tersenyum masam. Masih adakah harapan untuk jadi pemenang? Ya, walaupun Dimas juga teman sekelasku, tetapi kelasku harus mendapatkan juara satu.
    “Juara 2 dari Kelas 2…..” sambung Protokol. Aaaah. Aku sudah hampir patah semanagat. Mungkin memang kelasku benar-benar kalah seperti yang dikatakan Mam.
    “Dan juara satu dari 3 IPA Satu, Weny..” teriak protokol. Aku? Tubuhku mati kaku. Aku tak bisa berkata-kata. Aku memenangkan lomba ini? Aku memenangkan tantangan Mam? Impossible. Semua teman-temanku berteriak heboh. Aku maju ke depan untuk mengambil hadiah. Ini pertama kalinya dalam hidupku memenangkan lomba melukis dari sekian banyak lomba melukis yang pernah ku ikuti. Ini hadiah terindah dari Allah sebelum aku tamat dari sekolah ini. Seolah-olah ini adalah penutup Bab terakhir perjalanan putih abu-abuku. It’s unbelievable. Terima kasih sudah percaya padaku teman-teman. Its Impossible but Unbelievable.






    Continue Reading


    ... Bacalah Tulisan ini 60 Detik Saja, Mungkin Bisa Mengubah Hidup Anda 10 TAHUN Kedepan ...

    Catatan seorang penulis buku ini
    bisa menjadi pelajaran yang
    berharga:

    "Ketika aku muda, aku ingin
    mengubah seluruh dunia. Lalu
    aku sadari, betapa sulit
    mengubah seluruh dunia ini, lalu
    aku putuskan untuk mengubah
    negaraku saja. Ketika aku sadari
    bahwa aku tidak bisa mengubah
    negaraku, aku mulai berusaha
    mengubah kotaku. Ketika aku
    semakin tua, aku sadari tidak
    mudah mengubah kotaku. Maka
    aku mulai mengubah keluargaku.

    Kini aku semakin renta, aku pun
    tak bisa mengubah keluargaku.
    Aku sadari bahwa satu-satunya
    yang bisa aku ubah adalah diriku
    sendiri.

    Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa
    bila saja aku bisa mengubah
    diriku sejak dahulu, aku pasti
    bisa mengubah keluargaku dan
    kotaku. Pada akhirnya aku akan
    mengubah negaraku dan aku
    pun bisa mengubah seluruh
    dunia ini."

    Tidak ada yang bisa kita ubah
    sebelum kita mengubah diri
    sendiri. Tak bisa kita mengubah
    diri sendiri sebelum mengenal
    diri sendiri. Takkan kenal pada
    diri sendiri sebelum mampu
    menerima diri ini apa adanya.
    Continue Reading


    Kawan dengarlah yang akan aku katakan
    Tentang dirimu yang selama ini
    Ternyata kepalamu akan selalu botak
    Eh.. kamu kayak gorilla
    Cobalah kamu ngaca tuh bibir balapan
    Dari pada gigi loe kayak kelinci
    Yang ini uda gendut suka marah-marah
    Kau cacing kepanasan..
    Tapi ku tak peduli.. kau selalu dihati
    *Kamu sangat berarti.. istimewa di hati
    Selamanya rasa ini
    Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
    Ingatlah Hari Ini..
    Ketika kesepian menyerang diriku
    Gaenak badan resah tak menentu
    Kutahu satu cara sembuhkan diriku
    Ingat teman-temanku..
    Don’t you worry just be happy
    Temanmu disini..

    Project Pop – Ingatlah Hari Ini

    * * *

                Hujan turun lagi. Kali ini tidak selebat yang biasanya. Hanya gerimis yang jatuh perlahan-lahan. Beberapa hari ini hujan selalu datang mengguyur kota ini. Hujan yang selalu membuat orang-orang harus menghentikan berbagai aktivitasnya di jalanan. Seorang gadis menghirup nafas perlahan. Gadis bernama Windy itu kini berdiri di ambang pintu sambil memeluk sebuah album. Ia mendongakkan kepalanya keatas mencoba melihat langit. “Hujan” gumamnya dalam hati.
    Windy berjalan menuju balkon rumah. Mencoba duduk di salah satu bangku disana.  Ia memeluk erat-erat album tahunan miliknya. Dengan lembut ia membuka halaman sampul album itu. Sebuah pernyataan singkat tertera di halaman awal album miliknya

    Meski aku tidak bersama mereka bukan berarti aku harus melupakan mereka

    Perlahan, satu per satu Windy mulai membuka halaman berikutnya. Matanya kini memandang ke arah halaman selanjutnya. Tapi-siapa pun yang melihatnya pasti tahu bahwa meskipun gadis itu sedang memandang ke arah album dihadapannya, pikirannya jauh menerawang-seakan sedang memikirkan sesuatu.
                Ya. Dia sedang merindukan orang-orang yang ada di album itu. Benarkah? Sepertinya bukan hanya itu. Dia bukan hanya merindukan orang-orang yang ada disana tapi dia juga merindukan dan sangat merindukan salah satu diantaranya. Seseorang. Salah seorang sahabat yang selalu membuat Windy rindu akan segala candannya, nasihatnya serta kegigihannya.

                                                                A few Months Ago

                                                                            ***
                Friday, 20 Agust

                Hari ini aku berangkat.
    Doain aku yah. Sampai jumpa lebaran tahun depan 
    Sender : Farid
    04:30:15 Friday 20.08

    Seulas senyum menghiasi bibir Windy. Hari ini Farid akan berangkat pergi meraih mimpinya. Ia teringat akan perjuangan sahabatnya itu saat bangkit dari empat kali kegagalan.. Windy bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya jika dia berada di posisi Farid. Windy tidak akan sekuat Farid. Ia yakin ia tidak akan sekuat Farid.

    Hati-hati di jalan. Jangan lupakan kami.
    Farid, Saat kamu mampu bermimpi. Saat itu lah kamu harus mampu melewati perjuangan untuk meraihnya 
    Congratulation.
    To : Farid
    04:36:35 Friday 20:08

    “Selamat berjuang” Windy berkata perlahan.
                Dan akhirnya, Allah memang memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang-orang yang benar-benar berjuang dan benar-benar sabar. Bukankah itu janji Allah?. Allah memberikan Farid hadiah terindah yang memang pantas untuk segala perjuangannya. Lulus di salah satu sekolah kedinasan paling bergengsi di Negeri ini.
                Windy masih tersenyum membayangkan sahabatnya itu. Kini Windy benar-benar meyakini satu hal.
    Saat kamu mampu bermimpi. Saat itu lah kamu harus mampu melewati perjuangan untuk meraihnya Kekecewaan adalah cara Allah untuk mengatakan “Bersabarlah, Aku punya sesuatu yang lebih baik untukmu

                                                                            ***
                Thurs, 19 April
               
                “Windy?” seseorang menepuk pundaknya dari arah samping. “kok duduk sambil ngelamun, what happen?” tanya orang itu kemudian ikut duduk disamping Windy.
                Windy menggelengkan kepalanya. Melihat ke arah seseorang disampingnya. “Enggak ada apa-apa kok Dede, lagi ga mikirin apa-apa”  jawabnya. Matanya kini memandang ke arah orang-orang dihadapan mereka.
                “Jangan coba-coba berbohong padaku” ancam Dede. “Apa karena hari ini kita foto terakhir kali pakek baju putih abu-abu?”
                “Haaahhhh” kini Windy tersenyum.
                “Ada apa ni ribut-ribut?” timpal seseorang. Sontak Windy dan Dede menoleh ke arah sumber suara disamping mereka.
                “Gak ada apa-apa kok Farid” Windy menjawab dengan lesu.
                “Napa sih? Kok nampak banget sedihnya. Jangan karena ini hari terakhir kita pakek baju putih abu-abu” celoteh Farid sambil duduk disamping Windy.
                “Eh.. Liat tuh yang lain pada sibuk nyusun kursi. Pak Tri uda dipanggil belum? Kita kan mau foto bareng wali kelas kita?” Windy mengalihkan pembicaraan.
                “Hei hei hei kamu kamu. Ntar jangan rindukan akuuu ya” teriak Andi dengan celotehan khasnya, disambut dengan tawa dan canda riuh dari semua teman-teman sekelas Windy.
                “Pak Tri uda datang tuh” teriak Dede dan dengan sigap berdiri “Ayo, kita foto bareng. Ajaknya” kemudian segera pergi menuju teman-teman yang sedang bersiap-siap.
                “Ayo Rid” ajak Windy sambil berdiri. Tiba-tiba Windy merasa langkah kakinya terhenti. Sesuatu sedang menariknya. Farid memegang pergelangan tangannya.
                “Heii, gak muhrim!” teriak Windy
                “Upss. Khilaf!” jawabnya sambil tersenyum. Kini Farid memasukkan tangan nya ke kantong dan berdiri disamping Windy. “Kira-kira kita akan jadi apa 5 tahun lagi?” tanyanya.
    “Jangan sampai gak sukses ya” jawab Windy
    “Akan kuberi tahu satu hal, bisa pinjamkan telingamu?” tanya Farid.
    “Tentang apa itu?”
                “Jangan pernah berhenti melangkah menuju mimpimu” Farid berbisk perlahan.
                “Pasti” tegas Windy. Kini mereka tertawa perlahan.
                “Ayo!” ajak Farid. Mereka berjalan perlahan
    “Farid” panggil Windy.
    “Ya?” jawab Farid
    “Suatu saat aku akan merindukanmu dan yang lainnya” kata Windy tersenyum.
    “Rindukanlah sesukamu” Farid tertawa
    Dengan segera mereka menuju ke tengah-tengah teman-teman mereka dan siap untuk berfoto terakhir kalinya dengan seragam putih abu-abu.
                “Oke. Semua siap? Jangan Lupa senyum” teriak wali kelas mereka.
                “SIAPPPPPP!”
                “Oke. 1.2.3. CHEERRSS”

                                                                            ***
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me



    Halo! Saya Weny Ms.
    Seorang Blogger dan Freelancer Illustrator.

    My Social Media

    • twitter
    • instagram

    recent posts

    Blog Archive

    • ►  2020 (3)
      • ►  July 2020 (1)
      • ►  May 2020 (1)
      • ►  April 2020 (1)
    • ►  2018 (2)
      • ►  May 2018 (2)
    • ►  2017 (2)
      • ►  May 2017 (2)
    • ►  2016 (1)
      • ►  April 2016 (1)
    • ▼  2013 (5)
      • ▼  August 2013 (1)
        • Its Photografi World
      • ►  May 2013 (1)
        • Impossible but Unbelievable
      • ►  April 2013 (2)
        • Bacalah Tulisan ini 60 Detik Saja
        • ALWAYS MISSING THEM
      • ►  March 2013 (1)
    Powered by Blogger.

    Popular Posts

    Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top