Berbagi Cerita

    • Home
    • P(ar)enting
    • Lifestyle
    • Opini
    • My Illustration
    • About Me



                “Kalian sudah kalah dari anak IPS. Satu-satunya kesempatan yang kalian punya adalah lomba melukis. Untuk membuktikan bahwa kelas kalian memang unggulan, menangkan lomba melukis tersebut. Siapa perwakilan dari kelas ini untuk lomba melukis?”
                “Weny mam”
                “Weny kamu harus juara satu”
                Apa?? Whatt?
    * * *
    Udara panas masih selalu saja menghantui kota ini menjelang tengah hari. Aku mengambil buku tipis dari tas mungilku, dengan cepat dan lihai aku mengipasi wajahku. Panas. Pastinya. Bahkan sangat panas. Ditambah lagi dengan pelajaran Bahsa Inggris yang semakin membuat ruangan ini semakin panas. Jelas sekali aku Weny benar-benar tidak menyukai pelajaran tersebut. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin dikarenakan terlalu banyak formula-formula yang ribet dan bikin pusing kepala.
                “Uda selesai menerjemahkannya?” tanya Mam atau Mrs. Rahma dengan nada suara yang bisa membangunkan orang sekampung. Ya. Aku dan semua orang di sekolah ini tahu. Beliau adalah guru yang tegas.
                “Belum Mam” jawab kami dengan serempak.
                “Ngomong-ngomong, saya sangat kecewa karena kalian bertengkar dengan anak jurusan IPS kemarin. Kalau anak IPS menang pertandingan-pertandingan olahraga sudah wajar, karena itu sudah menjadi bagian jurusan mereka.”
                Upss. Kejadian kemarin lagi. Duuh Mam, kenapa sih masih mengungkit kejadian kemarin lagi ?. Hanya karena wasit yang tidak adil saat pertandingan bola antara kelasku 3 IPA 1 dan 3 IPS 1, sehingga skor nilai pun dipertanyakan! Dan kemaren, hampir saja seluruh pemain beradu jotos. Dan untungnya keadaan aman dan terkendali.
                “Bukan Mam, wasitnya yang tidak adil dan salah memberikan skor.” sela Boby
                “Benar Mam” sambung Reza.
                “Iya tetapi paling tidaknya kalian lebih baik mengalah. Saya sudah tau  mereka sudah banyak memenangkan lomba di perayaan Hari Sumpah Pemuda ini” kata Mam “Kalian sudah kalah dari anak IPS. Satu-satunya kesempatan yang kalian punya adalah lomba melukis. Untuk membuktikan bahwa kelas kalian memang unggulan, menangkan lomba melukis tersebut. Siapa perwakilan dari kelas ini untuk lomba melukis?”
                Memenangkan lomba melukis? Oh My God. Perasaanku semakin lama semakin gak enak dan gelisah.
                “Weny mam”  teriak teman-temanku.
                “Weny kamu harus juara satu”
                Apa?? Whatt? Jleeeb. Rasanya seribu pisau sedang menusuk kepalaku saat ni. Aku? Impossible! Oh God. Aku memang pernah mengikuti lomba melukis. Tapi tak pernah menang sama sekali. Dan sekarang ? Mam menantangku untuk memenangkan perlombaan itu ? Ini benar-benar hal tergila dalam hidupku. Yang lebih mengerikan lagi, teman-temanku sangat berharap padaku. Apa yang harus ku lakukan?
    * * *
                “Oke” kataku sambil menarik nafas perlahan “Ini pensil, ini penghapus, kertas dan cat lukis” kataku pada diri sendiri. Aku menatap benda-benda itu dengan seksama. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tetapi aku masih dan mematung di depan meja belajar di kamarku. Apa yang harus ku gambar?. Tema Lomba itu adalah Sekolah. Dan dengan sangat terpaksa aku harus memikirkn gmabar apa yang akan aku lukis.
                “Bagaimana ini?” kataku perlahan. Beberpa menit berlalu. Tiiiing. Sebuah inspirasi muncul diatas kepalaku. Tanganku mulai bergerak untuk menggambar sketsa. Dengan perlahan, tanganku dan pikiranku mulai mengombinasikan imajinasi di atas kertas. Apa yang ku gambar kali ini? Hanya seorang Guru dan beberapa murid yang sedang belajar di sebuah pondok kecil. Aku memandang sejenak gambar sketsaku. Mungkin menarik. Dan mungkin ini yang akan aku gambar di lomba nanti. Mungkin.
    * * *
    Hari H.
    Aku menarik nafas perlahan. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Lomba itu akan dimulai 2 jam lagi tepatnya pukul 3 siang.
    “Semangat” Septi memberikan dukungan padaku. Aku tersenyum perlahan. Aku masih ragu dengan gambar yanag akan aku lukis. Aku mulai mondar-mandir keluar ruangan. Dan benar saja, ternyata aku harus mengganti gambarku. Dengan cepat aku kembali ke dalam ruangan dan mengambil pensil dan penghapus. Ini yang kucari. Ini perasaanku. Ahhh. Kenapa tidak terpikirkan dari kemarin-kemarin. Goresan pensil mulai terurai di kertas putih di tanganku. Pikiran dan tanganku masih bekerja. Masih mengombinasikan sesuatu yang luar biasa. Semangatku bahkan menjadi dua kali lipat. Aku tidak gugup lagi. Aku tidak gugup. Thanks God atas imajinasi yang Kau berikan.
    “Siap” aku tersenyum lebar. Aku memperhatikan kembali sketsa gambar di hadapanku. Gambar ruangan depan kelasku terukir indah disana. Aaah. Seharusnya ini yang ku gambar. Semua perasaanku tercurahkan disana. Di ruangan kelasku. Bukan hanya sekedar gambar biasa. Gambar itu mempunyai cerita tersendiri. Tentang aku dan teman-temanku. Baiklah! Akan aku lakukan. Teman-temanku percaya padaku. Dan aku pasti bisa. Aku harus bisa. Bismillahirromanirrohim.
    * * *
    “Juara 3 dari 3 IPA Satu atas nama Dimas” sahut Protokol. Aku tersenyum masam. Masih adakah harapan untuk jadi pemenang? Ya, walaupun Dimas juga teman sekelasku, tetapi kelasku harus mendapatkan juara satu.
    “Juara 2 dari Kelas 2…..” sambung Protokol. Aaaah. Aku sudah hampir patah semanagat. Mungkin memang kelasku benar-benar kalah seperti yang dikatakan Mam.
    “Dan juara satu dari 3 IPA Satu, Weny..” teriak protokol. Aku? Tubuhku mati kaku. Aku tak bisa berkata-kata. Aku memenangkan lomba ini? Aku memenangkan tantangan Mam? Impossible. Semua teman-temanku berteriak heboh. Aku maju ke depan untuk mengambil hadiah. Ini pertama kalinya dalam hidupku memenangkan lomba melukis dari sekian banyak lomba melukis yang pernah ku ikuti. Ini hadiah terindah dari Allah sebelum aku tamat dari sekolah ini. Seolah-olah ini adalah penutup Bab terakhir perjalanan putih abu-abuku. It’s unbelievable. Terima kasih sudah percaya padaku teman-teman. Its Impossible but Unbelievable.






    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me



    Halo! Saya Weny Ms.
    Seorang Blogger dan Freelancer Illustrator.

    My Social Media

    • twitter
    • instagram

    recent posts

    Blog Archive

    • ►  2020 (3)
      • ►  July 2020 (1)
      • ►  May 2020 (1)
      • ►  April 2020 (1)
    • ►  2018 (2)
      • ►  May 2018 (2)
    • ►  2017 (2)
      • ►  May 2017 (2)
    • ►  2016 (1)
      • ►  April 2016 (1)
    • ▼  2013 (5)
      • ►  August 2013 (1)
      • ▼  May 2013 (1)
        • Impossible but Unbelievable
      • ►  April 2013 (2)
      • ►  March 2013 (1)
    Powered by Blogger.

    Popular Posts

    Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top